Australia Mencari Pekerja Asing di Bidang Pariwisata

Kompas.com - 31/08/2012, 09:41 WIB

KOMPAS.com - Wisata kuliner menjadi salah satu andalan negara Australia. Sayangnya, seperti dituturkan badan pariwisata Australia, negara ini kekurangan pelayan.

Negara ini pun membutuhkan sedikitnya puluhan ribu staf bar, barista, dan pekerja hotel. Mereka dibutuhkan untuk mengatasi kekurangan 100 ribu pekerja di bidang ini. Apalagi industri ini harus bersiap dengan kunjungan wisatawan dari Asia yang diperkirakan akan naik dua kali lipat di tahun 2020.

Managing Director Tourism Australia, Andrew McEvoy, di Melbourne, Australia, pada Selasa (28/8/2012) menuturkan kualitas tinggi dari makanan yang ditawarkan di sepanjang negara Australia, seringkali menjadi tujuan utama para wisatawan saat sedang melakukan perjalanan. Walaupun, hal tersebut tidak menjadi materi kampanye promosi utama oleh badan pariwisata setempat.

Dengan jumlah kunjungan turis asal China mencapai lebih dari satu juta orang per tahun dan membelanjakan uangnya mencapai 10 milyar dollar Australia di akhir dekade ini, McEvoy mengungkapkan bahwa sudah seharusnya kuliner menjadi andalan pariwisata Australia.

"Kita harus menggunakan MasterChef kita yang tengah naik daun dan mendemonstrasikannya kepada dunia," ungkapnya.

Menurutnya, Australia memiliki akses untuk memproduksi makanan-makanan yang lezat. Wisatawan yang datang ke Australia, lanjutnya, menuturkan bahwa pengalaman kuliner di Australia merupakan pengalaman terbaik di seluruh dunia.

Ia menuturkan, aspek wisata belanja, kuliner, dan hiburan merupakan produk-produk wisata yang diincar pelancong asal Asia. McEvoy juga menambahkan bahwa pariwisata Australia tidak hanya mengincar wisatawan kelas atas.

Oleh karena itu, pariwisata Australia membutuhkan sekurangnya 1000 kamar kelas hotel bintang tiga sampai empat untuk wisatawan kelas menengah. Badan pariwisata Australia mencatat bahwa di tahun 2020 wisatawan asal China akan memberikan kontribusi besar bagi pariwisata Australia.

Pihaknya memprediksi wisatawan asal China akan memberikan kontribusi sebesar 40 persen dari pertumbuhan jumlah pengunjung selama delapan tahun ke depan.

Namun, Australian Hotels Association Chief Executive, Des Crowe, mengingatkan bahwa untuk bisa memenuhi target tersebut, pekerja asing akan diperlukan. Sebab pekerja asal Australia sendiri tak dapat memenuhi kebutuhan ini.

"Dengan tingkat pengangguran hanya di sekitar lima persen, sangat susah mendapatkan karyawan untuk bekerja di bidang ini dan kita pasti membutuhkan pekerja asing," tutur Crowe.

Sehingga, menurut Crowe, pihak Australia perlu memiliki sistem imigrasi tersendiri untuk para pekerja asing tersebut. Selain itu, larangan merokok di beberapa obyek wisata juga dipandang berpotensi menghambat kunjungan wisatawan asal Asia ke Australia.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau