Jalan di Perbatasan RI-Timor Leste Rusak

Kompas.com - 31/08/2012, 20:23 WIB

KEFAMENANU, KOMPAS.com -- Jalan alternatif yang sering dilewati warga Kefamenanu bagian utara dan sebagian warga Distrik Oekusi, Timor Leste, rusak parah. Kondisi ini merusak sebagian kendaraan milik warga yang melewati jalan tersebut.

Jalan alternatif sepanjang satu kilometer mulai dari jalan Jati sampai jalan Kirab Remaja, Kelurahan Gua Aplasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, TTU itu berlubang dan berbatu. Selain itu, ada beberapa titik jalan yang belum beraspal sehingga pada saat musim hujan sulit dilewati.

"Motor saya sekarang lagi masuk bengkel karena rusak, akibat setiap harinya melewati jalan alternatif ini. Kami minta supaya perusahaan yang saat ini membuat jembatan untuk segera memperbaiki jalan alternatif ini agar kendaraan kami jangan sampai rusak lagi," jelas Damianus Siki, warga Kelurahan Kefamenanu Utara, Jumat (31/8/2012).

Hal yang sama juga disampaikan Daniel Abi dan Vinsen Dua yang mengaku motor mereka juga mengalami kerusakan di bagian gir, rantai dan velg motor.

"Dua hari sekali pasti saya selalu setel rantai motor saya, begitupun juga dengan gir dan velg yang cepat habis dan rusak. Selain itu, onderdil bagian dalam motor juga jadi longgar seperti baut dan ring yang terlepas setelah melewati jalan yang mirip arena mobil offroad. Ini jelas telah membuat susah kami pengguna jalan," jelas Daniel yang diamini Vinsen.

Sementara itu, warga jalan Kirab Remaja, Frans Aluman meminta pemerintah daerah dalam hal ini, Dinas Pemukiman Prasarana dan Wilayah (Kimpraswil) Kabupaten TTU agar bertanggunjawab memperbaiki jalan itu.

"Diharapkan agar pemerintah segera memperbaiki jalan alternatif ini, sebelum jembatan itu selesai dan ini sebenarnya adalah tanggung jawab dinas Kimpraswil. Saya juga menyesalkan karena banyaknya kendaraan yang lewat membuat pipa air milik saya yang melintas di jalan raya menjadi putus. Selain itu, kalau pada saat musim hujan, banyak pengendara motor yang terjatuh akibat kondisi jalan tanah yang berlumpur dan licin," jelas Frans.

Terkait dengan itu, Wakil Bupati TTU Aloysius Kobes mengatakan, untuk jalan aternatif yang rusak Pemerintah Kabupaten TTU akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memperbaikinya.

"Tergantung kapan selesainya pembangunan jembatan Peboko. Terkait dengan kerusakan jalan yang ada tentu kita akan koordinasikan untuk diperbaiki. Syukur kalau pemborong yang bangun jembatan bersedia untuk kita minta bantuan memperbaiki jalan tersebut," jelas Kobes.

Yodong, mandor PT Teguh Karya yang menjadi kontraktor dalam pengerjaan jembatan Peboko enggan berkomentar banyak, lantaran dirinya hanya mengawasi jalannya proyek itu. Menurutnya, kantor pusat perusahaan dan pemiliknya, Junaedi berada di Surabaya.

"Saat ini bos Junaedi sedang di Surabaya," kata Yodong singkat.

Pantauan Kompas.com, terlihat jumlah kendaraan yang melewati jalan alternatif cukup padat, mulai kendaraan ukuran kecil sampai dengan kendaraan berat pun rutin melewati jalur itu setiap hari, sehingga sering terjadi kemacetan karena ukuran jalannya yang sempit.

Selain itu, jalan tersebut menjadi satu-satunya alternatif yang menghubungkan tiga kecamatan di Kabupaten TTU dan Distrik Oekusi, Timor Leste.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau