Ruko yang terbakar itu terletak di kompleks Ruko Karang Anyar Permai Blok C Nomor 4. Kebakaran terjadi sekitar pukul 00.20. Api bisa dipadamkan pukul 02.00 setelah dikerahkan 18 mobil pemadam kebakaran.
Ruko empat lantai itu dihuni Andrew Tanady (46) bersama istrinya, Tanti (34), dan tiga putra mereka: William Tanady (7), Willy Tanady (4), dan Wilhungyadi Tanady (3).
Saat kebakaran terjadi, tidak banyak orang tahu karena kompleks ruko itu sangat sepi. Sementara di dalam ruko, asap sudah tebal dan pekat.
Pintu depan ruko juga tidak bisa dibuka karena dikunci dari dalam dan terhalang terali besi. Warga terpaksa melempari kaca ruko dengan batu agar asap keluar. Warga dan petugas pemadam kebakaran juga harus mendobrak pintu depan dengan batang kayu besar.
Setelah pintu terbuka, petugas juga harus mendobrak lagi pintu terali besi untuk dapat mencapai lantai 2. Begitu masuk ke lantai 3, petugas menemukan Andrew, William, dan Willy sudah dalam keadaan tidak bernyawa di kamar tidur.
”Badannya utuh, tidak hangus. Sepertinya mereka menghirup asap terlalu banyak,” kata Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Pusat Achmad Lamping.
Tanti dan Wilhungyadi selamat karena melompat ke luar ruko. Dari lantai 3, setinggi sekitar 10 meter, Tanti melompat sambil menggendong Wilhungyadi. Kaki kiri Tanti patah dan tulang pinggangnya mengalami dislokasi. Wilhungyadi aman dalam gendongan ibunya, tetapi kepalanya terluka.
Akibat patah kaki, Tanti dirawat di unit perawatan intensif (ICU) RS Husada. Wilhungyadi dirawat di ruang anak.
Tidak ada tangga darurat di luar bangunan ruko yang terbakar itu. Pintu keluar masuk hanya di lantai dasar. Akibatnya, keluarga itu tak bisa keluar dari pintu utama karena api berasal dari lantai bawah, sementara mereka berada di lantai 3.
”Kalau melihat kondisinya, titik api muncul di lantai 2,” kata Kepala Polsek Sawah Besar Komisaris JR Sitinjak.
Namun, belum diketahui penyebab pasti kebakaran tersebut. Polisi masih menunggu laporan dari laboratorium forensik.
Menurut Rudi, pekerja di kompleks tersebut, selain tidak ada tangga darurat, alarm pun tak ada sehingga kalau tidak ada orang teriak, tidak ada yang tahu terjadi kebakaran.
Di lantai 4 sebenarnya ada pintu darurat yang menuju ke atap. Akan tetapi, karena asap sudah terlalu pekat, kemungkinan mereka tak sempat menyelamatkan diri ke atas.
Kebakaran di rumah bertingkat juga terjadi di Tebet, Jakarta
Kebakaran di rumah Abrar di Ciputat diduga akibat pembakaran sampah di lahan kosong di belakang perumahan yang baranya terbawa angin dan mengenai aluminium foil, pelapis atap. Api merembet cepat di aluminium foil itu. Kesigapan warga bergotong royong memadamkan api membuat api tidak meluas ke rumah sekitar.
”Pembakaran sampah itu sebetulnya di tengah, tetapi merembet ke rumput, ditambah ada angin,” kata Lazuardi, Ketua RW 14.
Wakil Kapolsek Ciputat Ajun Komisaris Prayitno akan menyelidiki kasus ini.
Sementara itu, Sabtu sore, rumah dua lantai di Tebet habis terbakar gara-gara seorang anak balita bermain korek api. (FRO/SUT)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang