Pertanian

Petani Tembakau Desak Pemerintah Intervensi

Kompas.com - 03/09/2012, 07:09 WIB

WONOSOBO, KOMPAS - Petani tembakau di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, meminta pemerintah melakukan intervensi terkait anjloknya harga komoditas tersebut hingga lebih dari 50 persen pada musim panen kali ini. Petani menilai anjloknya harga tembakau hampir dua pekan terakhir akibat ulah tengkulak dari perwakilan sejumlah perusahaan rokok.

Ahmad Jawardi (34), petani Desa Reco, Kecamatan Kertek, Minggu (2/9), mengatakan, harga jual daun tembakau kering kelas D dengan kualitas istimewa yang pada tahun lalu mencapai Rp 120.000 per kilogram (kg) saat ini anjlok menjadi hanya Rp 60.000-Rp 70.000 per kg. Bahkan, tembakau dengan kualitas di bawahnya hanya laku Rp 30.000-Rp 40.000 per kg.

”Bahkan, dalam sepekan ini tembakau toalo (tembakau kelas dua khas Wonosobo) ditolak tengkulak dari perwakilan perusahaan rokok. Mereka juga membeda-bedakan tembakau dari petani Wonosobo dan Temanggung,” ujar Ahmad.

Menurut dia, tembakau lokal milik sejumlah petani akhir-akhir ini ditolak tengkulak dengan alasan stok gudang sudah penuh. Selain itu, banyak tembakau yang disortir secara berlebihan dan merugikan petani.

Ketua Paguyuban Petani Tembakau Toalo Wonosobo Mustangin mengatakan, petani tidak memiliki daya tawar yang kuat di hadapan tengkulak. Oleh karena itu, selama ini patokan harga selalu ditentukan tengkulak.

Sementara itu, petani tembakau di Jember, Jawa Timur, masih kecewa karena hasil dialog dengan wakil pengusaha industri rokok belum membuahkan hasil. Harga tembakau belum beranjak naik secara signifikan sehingga membuat petani resah karena dirundung rugi.

Seusai pertemuan kesepakatan ancar-ancar harga dengan wakil industri rokok, hanya perwakilan dua industri rokok yang sempat menaikkan harga. Namun, kenaikan harga masih berkisar antara Rp 1.000-Rp 2.000 per kilogram, yang dilakukan perwakilan Bentoel dan Djarum di Jember.

Petani tembakau di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, meminta pemerintah turun tangan untuk mencegah penurunan harga tembakau secara drastis. Salah satunya dengan menjembatani komunikasi petani dengan pabrikan dan tengkulak. (GRE/SIR/NIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau