Pengadaan pangan

Bulog agar Diarahkan Jadi Penyangga Harga Pangan

Kompas.com - 04/09/2012, 05:10 WIB

Jakarta, Kompas - Revitalisasi Bulog harus mampu menjadikan Bulog sebagai penyangga stabilitas harga pangan dalam rentang harga yang ditetapkan pemerintah. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong produksi pangan dalam negeri menuju kemandirian pangan.

Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Golkar, Siswono Yudo Husodo, Senin (3/9), di Jakarta, menyarankan pemerintah agar menetapkan berapa batasan tingkat harga komoditas pangan tertinggi dan terendah yang harus dijaga Bulog setiap saat. Batas harga yang ditetapkan ini bisa saja berubah sesuai dengan kebijakan pemerintah. Akan tetapi, semangatnya tetap untuk mendorong peningkatan produksi dalam negeri menuju kemandirian pangan.

Harga beras saat ini yang harus dijaga Bulog dalam kisaran Rp 6.800 per kilogram untuk batas bawah dan Rp 7.600 per kilogram batas atas untuk jenis beras kualitas medium. Harga gula Rp 9.500-Rp 10.000 per kilogram. Harga kedelai Rp 6.500-Rp 7.500 per kilogram. Harga jagung Rp 2.300-Rp 2.900 per kilogram. Harga daging sapi Rp 23.000-Rp 28.000 per kilogram.

Dengan menjaga tingkat harga tertentu seperti yang ditetapkan pemerintah, Bulog akan mampu memainkan peranan strategis untuk membangun kemandirian pangan.

Semua negara yang sukses membangun pertanian dan pangan tidak membiarkan harga komoditas pangannya berfluktuasi. Thailand, misalnya, sukses surplus beras 10 juta ton karena tidak membiarkan harga beras jatuh. India bisa mengekspor gula juga karena selalu menjaga harga gula pada tingkat yang menguntungkan produsen sehingga memberikan insentif bagi petani dan pabrik gula. ”Di Indonesia, surplus sedikit saja harga jatuh,” kata Siswono.

Terkait dengan pengadaan stok pangan untuk keperluan stabilisasi, Siswono cenderung mengatakan, importir untuk lima komoditas, yaitu beras, gula, kedelai, jagung, dan daging sapi, adalah Bulog.

”Namun, dalam pelaksanaannya bisa saja bermitra dengan swasta,” ujar Siswono.

Tim Revitalisasi Bulog telah menyelesaikan kajian dan memberikan rekomendasi revitalisasi peran Bulog untuk stabilisasi pangan yang bersifat strategis. Menurut rencana, rekomendasi akan dibahas pada tingkat menteri di Kantor Kementerian Perekonomian pada Senin kemarin, tetapi ditunda menjadi Selasa ini.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan, dalam penyaluran beras dan komoditas pangan lain untuk keperluan stabilisasi harga, Bulog diberi kewenangan memutuskan. Pendelegasian kewenangan ini penting agar Bulog bisa sesegera mungkin mengintervensi harga pangan di pasar saat terjadi gejolak tanpa harus menunggu lama.

Selama ini, Bulog harus menunggu persetujuan dari kementerian terkait dalam mengintervensi harga. Tak jarang persetujuan baru diberikan setelah harga pangan melambung tinggi sehingga tidak terkejar lagi untuk ditekan. Pemerintah cukup memberikan panduan, misalnya Bulog bisa melakukan intervensi apabila terjadi kenaikan harga 10 persen. (MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau