Tidur Lebih Penting ketimbang Seks?

Kompas.com - 05/09/2012, 08:16 WIB

KOMPAS.com — Riset terbaru menunjukkan, banyak pasangan suami istri kini lebih mementingkan tidur ketimbang harus berhubungan seks. Temuan para ahli dari Amerika Serikat ini menegaskan bahwa kehidupan setelah pernikahan dan hubungan seks antarpasangan rupanya tidak sederhana.

Studi terbaru dari National Sleep Foundation menemukan, satu dari empat orang Amerika yang telah menikah mengaku kurang tidur. Mereka mengaku terlalu lelah untuk melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Tidak mengherankan mengapa tidur mengalahkan seks. Sebab, setelah menikah, kewajiban kerja, kebutuhan keluarga, dan interaksi sosial menyita banyak tenaga untuk diutamakan.

Belum lagi masalah tekanan keuangan, kesehatan, dan kesejahteraan hubungan, menempatkan aktivitas seks menjadi daftar paling bawah. Bahkan, ketika akhirnya telah berada di ranjang, banyak dari pasangan lebih senang memegang gadget ketimbang tangan suami atau istrinya.

"Banyak dari kita menjadi multitasking sepanjang hari dalam waktu yang lama. Hal ini dapat memperkaya kemampuan diri, tetapi juga mengorbankan kehidupan seks," kata Amy Levine, pengamat seks dan pendiri Ignite Your Pleasure.

Dalam beberapa kasus, kelelahan bukanlah satu-satunya alasan mengesampingkan seks. Ada pula orang dengan kondisi kesehatan dengan diagnosis menderita sindrom kelelahan kronis menjadi penyebabnya. Faktor lainnya yakni gaya hidup yang terlalu sibuk, kebosanan, dan hasrat seksual rendah.

Menurut sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan dalam Archives of Internal Medicine, sepertiga dari responden menemukan hasrat seksual mereka cukup rendah. Libido yang rendah baik pada pria dan wanita banyak pemicunya, seperti stres, rasa cemas, dan khawatir. Mereka yang memiliki libido rendah merasa terlalu lelah untuk berhubungan seks. Para ahli percaya, libido yang rendah ini menimbulkan masalah bagi pasangan.

"Banyak wanita merasa puas dan menikmati setelah hubungan seks berlangsung. Tetapi, mereka terlalu lelah dan stres untuk merasakan hasrat seksual," jelas Laurie Mintz, profesor psikologi dari Universitas Florida dan penulis A Tired Woman's Guide to Passionate Sex.

Dalam bukunya, Laurie memberi saran bagaimana pasangan dapat kembali meningkatkan gairah seksual, kepuasan, dan fungsi seksual berjalan semestinya. Pasangan suami istri disarankan untuk tidur teratur dan mencurahkan lebih banyak waktu saat bangun pagi untuk pasangan.

Menurut Laurie, kadang pasangan perlu berpikir lain dari biasanya. Jika mereka terbiasa berhubungan seks di malam hari, kebiasaan itu bisa diubah. Seks kilat di pagi hari akan terasa lebih intim dan menggairahkan. Apabila pasangan telah memiliki anak, sesekali titipkan mereka ke pengasuh atau orang tua. Kemudian, atur waktu kencan khusus berdua. "Pertemuan yang dijadwalkan dapat membantu membangun kembali hubungan dan meredakan ketegangan dalam hubungan Anda," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau