Hebat...Menyulap Waduk Jadi Rumah Memukau!

Kompas.com - 05/09/2012, 15:40 WIB

KOMPAS.com - Sepasang suami istri, insinyur teknik sipil Robert Hardy dan Ann, merupakan pemilik properti paling tidak umum di Inggris. Mereka "menyulap" sebuah waduk tidak terpakai menjadi tempat tinggal memukau.

Pasangan ini memulai proyek sejak mereka jatuh cinta pada lokasi seluas lebih dari 603 meter persegi tersebut. Properti ini berada di tengah bukit kecil di Sidmouth, Devon.

Waduk tidak terpakai ini tampak seperti drum terbuat dari beton. Waduk itu sudah tidak digunakan selama lima tahun, ketika pasangan ini membelinya dari South West Water pada 2008 silam. Perusahaan air ini telah menjual izin membangun dengan harga pembukaan 300.000 pound sterlling.

Banyak orang telah mencemooh langkah yang diambil pasangan ini. Namun, Robert justru mengatakan, bahwa kesulitan menjalankan proyek inilah yang menarik perhatiannya.

"Saya telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mendirikan rumah, dan itu sangat membosankan," katanya.

"Proyek ini memiliki banyak aspek menarik. Bagaimana Anda menghadapi masalah ketinggian? Bagaimana dengan pencahayaan? Bagaimana membuka bentuk drum? Ini benar-benar menarik," tambahnya.

Pada saat "memeriksa" lokasi bekas waduk ini, pasangan Hardy telah menjual "lumbung" dekat Helston, Cornwall seharga 300.000 pound sterlling. Mereka kemudian tinggal di karavan di daerah Sidmouth yang sepi.

Pasangan tersebut mendapatkan sedikit keuntungan dengan penjualan Rumah Cornish mereka. Pada 2000, mereka membeli rumah tersebut seharga 100.000 pound sterlling dan menghabiskan 150.000 pound sterlling untuk proses renovasinya.

"Kami tidak melakukan proyek ini sebagai investor untuk berfokus pada keuntungan. Tapi, kami pikir, secara finansial hal ini masuk akal," kata Hardy.

"Pasar di daerah barat daya tengah berkembang dan Sidmouth menjadi area utama. Wilayah ini terkenal sebagai wilayah rumah kedua," tambahnya.

Namun, sesaat ketika pasangan ini telah siap untuk pindah, impian mereka digoyahkan oleh krisis finansial tahun 2008. Dengan pinjaman bank, pasangan ini harus melakukan tawar-menawar setiap sennya agar pada akhirnya mereka mendapatkan 800.000 pound sterlling. Jumlah ini dibutuhkan untuk membiayai renovasi bekas waduk.

Selain masalah finansial, bangunan ini sendiri menghadapi masalah keamanan. Pengerjaan bangunan ini dimulai pada Maret 2008. Gambut dihilangkan dari atas dome. Ini pun harus dilakukan satu per satu dengan tangan.

Robert Hardy meragukan kekuatan dome, jika gambut dihilangkan dengan menggunakan penggali. Selanjutnya, tukang las harus turun ke bawah waduk dan berhadapan dengan drum beton. Mereka hanya diberikan penerangan dari lampu berkekuatan 110 volt. Tugas mereka mendirikan rangka rumah dari baja.

Satu lagi rintangan bagi mereka, yaitu asap yang dihasilkan dalam waduk ini. Mereka hanya dapat bekerja selama tiga jam dalam satu waktu.

Namun, walau harus menghadapi berbagai rintangan tersebut, bagi Nyonya Hardy, hal ini begitu berarti untuk suaminya. Lantaran itu, ia selalu melihatnya dengan penuh optimisme.

Setelah tiga tahun, gambut buatan akhirnya dipasang pada atap rumah unik ini. Gambut ini membuatnya "membaur" dengan sisi pedesaan di sekitarnya.

Sayangnya, pasangan visioner ini tidak dapat menikmati hasil karyanya yang kini disebut dengan "The Reservoir" yang mereka inginkan. Pada Juni tahun lalu, Robert Hardy jatuh dari tangga di tempat kerja dan dilarikan ke rumah sakit akibat hematoma subdural atau pembekuan darah antara tengkorak dan otaknya.

Selanjutnya, dokter menyuruh Robert memotong beban kerjanya untuk tiga tahun ke depan, sehingga pasangan ini telah memutuskan berhemat dan hidup dari keuntungan rumah sampai pulih sepenuhnya. Kini, rumah bekas waduk itu dihargai 1,25 juta pound sterlling atau lebih dari Rp 18 miliar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau