Ngabuburit Asyik di Kampung Pekojan (1)

Kompas.com - 06/09/2012, 10:31 WIB

MAU tau cara asyik untuk ngabuburit? Coba deh sekali-kali menjelajah "Kota Tua" (daerah kota lama Jakarta). Lebih asik lagi kalau dilakukan beramai-ramai.

Seperti Komunitas Jelajah Budaya menyambangi kampung Arab Pekojan untuk mengetahui lebih banyak beberapa tinggalan Islam yang terdapat di sana, Minggu (5/8). Mau tau cerita serunya?

Kampung Pekojan terletak di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Nama Pekojan menurut Van den Berg berasal dari kata Khoja, istilah yang masa itu digunakan untuk menyebut penduduk keturunan India. Pada masa kolonial, pemerintahan Hindia Belanda menetapkan wilayah Pekojan sebagai perkampungan Arab.

Kala itu para imigran yang datang dari Hadramaut (Yaman Selatan) diwajibkan untuk tinggal lebih dulu di sini, setelah itu baru mereka dapat pergi ke berbagai kota dan daerah. Karena banyaknya orang Arab di Kampung Pekojan, maka banyak peninggalan Islam yang dapat dijumpai, seperti; Masjid Al-Anshor, Masjid Ar-Raudah, Masjid An-Nawier, dan Masjid Langgar Tinggi yang menjadi tujuan ngabuburit petang itu.

Berangkat dari Museum Bank Mandiri, kami berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kampung menuju sasaran pertama Masjid Al-Anshor yang lokasinya tersembunyi di dalam gang-gang sempit, dan tampak terjepit di antara padatnya perumahan penduduk. Masjid Al-Anshor yang dibangun pada tahun 1648 M ini terlihat berusaha mempertahankan eksistensinya.

Selain terlihat kecil dan sederhana, mesjid ini tampak sedikit janggal karena adanya tempat berwudhu di dalam ruangan masjid akibat pelebaran yang dilakukan. Sayang sekali bagian asli yang tersisa hanya berupa 4 tiang penyangga masjid. Dari situ, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Ar-Raudah.

Sejarah Masjid Ar-Raudah berawal dari sebuah Madrasah Jamiatul Khair (Perkumpulan Kebaikan) yang didirikan pada tahun 1901. Mungkin itu sebabnya, bangunan tidak tampak seperti masjid tapi terlihat seperti rumah biasa. Namun setelah kita masuk ke dalamnya akan terlihat mimbar dan tempat berwudhu seperti yang terdapat pada masjid umumnya.

Uniknya kolam bekas tempat berwudhu pada masa lalu masih terpelihara meski sudah tidak digunakan lagi. Konon mata air di kolam ini tidak pernah kering walau pada musim kemarau. Di masjid ini, kami sempatkan untuk salat Ashar berjamaah. Setelah itu, kembali kami berjalan menuju Masjid An-Nawier.

(Lily Utami, pemerhati sejarah dan budaya)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau