Sejak dirambah Christopher Columbus pada abad ke-15, Benua Amerika dipandang sebagai ”dunia baru” yang penuh harapan. Pemain tim nasional Andik Vermansyah memang tidak berpikir melambung tinggi, seperti yang diimpikan warga Eropa saat mengikuti jejak Columbus kala itu.
Namun, saat ia dan manajernya terbang dari Jakarta menuju Amerika Serikat (AS) untuk mengikuti latihan dan percobaan di salah satu klub Liga Sepak Bola Utama (MLS), Jumat (7/9) sore, Andik memendam satu impian. ”Saya berharap kedatangan ke Amerika ini bukan sekadar ikut latihan. Saya ingin bermain dan memperkuat salah satu klub di sana,” katanya kepada Kompas seusai latihan bersama timnas U-22 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis sore.
Sesuai rencana, pemain berusia 20 tahun itu akan berada di Negeri Paman Sam hingga 22 September mendatang. Andik menolak menyebut dengan jelas klub yang akan diikutinya berlatih. Namun, ia disebut-sebut akan berlatih di DC United, klub bermarkas di Washington DC yang sebagian sahamnya dimiliki pengusaha Erick Thohir.
”Tidak ada persiapan khusus. Cuma, saya sedikit menyesal, saya tidak bisa bahasa Inggris. Menyesal kenapa dari dulu saya tidak belajar bahasa Inggris,” ujar Andik dengan logat Surabaya-nya yang kental. Urusan komunikasi selama berada di AS, ia mengaku, bergantung pada manajernya yang tidak mau dia ungkapkan identitasnya.
Kamis sore kemarin, Andik masih ikut latihan timnas U-22 Indonesia yang akan berlaga melawan timnas Malaysia U-22 di ajang SCTV Cup, Minggu (9/9). Ia digenjot latihan dengan porsi dan intensitas tinggi oleh Pelatih Aji Santoso. ”Untuk jaga kondisi fisik, Mas,” ujar Andik.
Saat latihan berakhir, pemain Persebaya Surabaya itu diburu sejumlah reporter televisi untuk wawancara menjelang keberangkatannya ke AS. Dengan senang hati, ia melayani wawancara-wawancara itu. Tak terlihat kesan sombong atau jaim. ”Mas, tolong saya difoto sama (Hendra Adi) Bayauw. Kapan lagi saya bisa foto sama Bayauw,” pintanya kepada seorang fotografer.
Selasa lalu, ia juga masih mengikuti ospek di Universitas Dr Soetomo, Surabaya, sebagai mahasiswa baru jurusan manajemen, fakultas ekonomi. Andik mendapat beasiswa penuh di universitas tersebut.
Andik sadar, saat ini ia masih ”belum jadi apa-apa” meski pujian demi pujian atas keterampilannya mengolah bola mengalir dari berbagai kalangan, termasuk dari Pelatih Inter Milan Andrea Stramaccioni dan Pelatih Los Angeles Galaxy Bruce Arena saat dua klub asuhan keduanya beruji coba melawan timnas Indonesia di Jakarta.
Situs resmi Inter Milan (www.inter.it) pada 24 Mei 2012 juga memuat artikel khusus tentang Andik bertajuk ”Indonesia 2012: presenting... the Indonesian Messi”. Julukan ”Messi-nya Indonesia” sudah lama dilekatkan pada pemain berpostur tinggi 162 sentimeter itu berkat kelincahannya menggocek bola.
Kolumnis sepak bola John Duerden memasukkan Andik dalam daftar 10 pemain sepak bola muda Asia yang harus dicermati tahun ini. Namun, semua pujian tak membuat Andik lupa diri. Ia meminta doa restu semua warga Indonesia agar perjalanannya ke AS sukses.
Raih sukses, Andik!