Pentingnya Komunikasi Saat Berhubungan Intim

Kompas.com - 07/09/2012, 09:58 WIB

KOMPAS.com - Kepuasan seksual antara suami istri tak melulu dapat dicapai melalui variasi atau gaya bercinta. Kepuasan justru dapat diraih dengan membiasakan pasangan saling berkomunikasi selama hubungan seks berlangsung.

Komunikasi  dan sikap terbuka perlu dikembangkan oleh setiap pasangan karena hal ini sangat bermanfaat bagi kelanggenangan hubungan suami dan istri. Hal ini pun telah didukung oleh hasil penelitian yang menemukan adany korelasi antara komunikasi  dengan kepuasan seksual. Penelitian menyimpulkan, orang yang nyaman dan terbuka berbicara tentang seks akan berlaku sama ketika mereka mempraktikkannya.

"Bahkan, saat Anda merasa sedikit cemas untuk berkomunikasi, ternyata itu bisa mempengaruhi kepuasan pasangan," kata Elizabeth Babin, pakar komunikasi kesehatan dari Universitas Cleveland State, Ohio Amerika Serikat. Kecemasan mungkin akan membuat seseorang tidak berkonsentrasi dan mempengaruhi kepuasan selama aktivitas seks berlangsung.

Bagi para peneliti, bagaimana orang leluasa berbicara soal seks merupakan topik yang penting. Kebanyakan orang merasa tidak nyaman menyampaikan keinginannya, misalnya ketika meminta pasangannya memakai kondom, demi mengurangi risiko infeksi penyakit seksual menular.

Babin dan timnya meneliti 207 responden. Sebanyak 88 orang di antaranya tidak lulus sekolah dan 119 lainnya didapat dari responden online. Responden ditanya terkait apa ketakutan mereka untuk berkomunikasi, bagaimana kepuasan seksual mereka, serta berapa banyak komunikasi non verbal maupun verbal yang dilakukan selama berhubungan seks. Responden diminta menjawab sejumlah pertanyaan, di antaranya  apakah merasa gugup untuk berbicara dengan pasangan soal hubungan seksual atau apakah mereka cemas jika memberitahu pasangan tentang apa yang disukai saat berhubungan seks.

Responden yang berusia rata-rata 29 tahun ini juga ditanya mengenai kepercayaan diri seksual mereka, sebaik apa pasangannya dan seberapa jauh ketrampilan seksual mereka.

Hasil survei yang diterbitkan dalam jurnal Journal of Social and Personal Relationships  itu mengungkapkan, takut berbicara soal seks dapat mempengaruhi kenikmatan seks. Dimana ketakutan berhubungan dengan kurangnya komunikasi di tempat tidur dan mengurangi kepuasan seksual secara keseluruhan. Yang mengejutkan, orang takut mengkomunikasikan seksualnya karena masalah harga diri.

Namun, Babin mengakui, meskipun komunikasi saat berhubungan seks itu terkait kepuasan, ternyata tidak semua orang memilikinya. "Komunikasi seksual adalah keterampilan, dan tidak semua orang langsung memilikinya," ujarnya.

Oleh karena itu, jika komunikasi secara verbal dengan pasangan dinilai terlalu terbuka, Babin menyarankan agar pasangan melakukan komunikasi non verbal. Mungkin, erangan atau gerakan tertentu bisa mengungkapkan kepada pasangan, bahwa seseorang benar-benar menikmati hubungan seks.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau