Imigran ilegal

Dua Perahu Tenggelam di Turki dan Italia

Kompas.com - 08/09/2012, 03:52 WIB

Kairo, Kompas - Gerakan eksodus imigran ilegal dari Timur Tengah dan Afrika menuju Benua Eropa kembali menelan korban. Dua perahu pengangkut para imigran tenggelam berturut-turut dalam kurun kurang dari 24 jam.

Sebuah perahu yang membawa sekitar 100 imigran ilegal dari Afrika tenggelam, Kamis (6/9) malam, di lepas pantai Pulau Lampedusa, Italia. Kamis pagi, sebuah perahu lain yang membawa 106 imigran ilegal asal sejumlah negara Arab juga tenggelam ketika menabrak karang di perairan Laut Aegea di lepas pantai Turki barat.

Sebagian besar dari 106 imigran itu adalah warga Arab dari Palestina, serta sebagian lain dari Suriah dan Irak. Mereka berbicara dengan bahasa Arab. Sebanyak 60 imigran, di antaranya 11 lelaki, 18 wanita, dan 31 anak kecil, termasuk tiga bayi, diberitakan tewas.

Mereka yang meninggal diketahui berada di dek bawah perahu. Sebanyak 46 orang lagi, termasuk kapten kapal dan seorang asistennya yang berada di geladak, dapat diselamatkan.

Tempat transit

Menurut CNN Turk, sebuah sindikat mencoba menyelundupkan para imigran ilegal itu dengan kapal penangkap ikan dari Turki menuju Inggris. Mereka bertolak dari Desa Ahmetbeyli di Provinsi Izmir, Turki, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Pulau Samos dan Chios di Yunani. Dua pulau tersebut dikenal sering menjadi tempat transit para imigran ilegal dari Timur Tengah dan Afrika yang melalui Turki menuju Eropa.

Dalam perkembangan terpisah, otoritas Italia menyatakan telah berhasil menyelamatkan 56 imigran ilegal dalam insiden perahu tenggelam di lepas pantai Lampedusa. Petugas juga menemukan satu jenazah korban, dan hingga Jumat sore masih terus mencari belasan orang yang masih hilang.

Perahu-perahu kesatuan Penjaga Pantai Italia dan tiga kapal perang NATO masih terus mencari korban yang hilang. Menurut imigran yang diselamatkan, kapal yang tenggelam itu mengangkut sekitar 100 imigran ilegal dari Tunisia dan dalam perjalanan menuju daratan Italia.

Pulau Lampedusa merupakan pulau yang masuk wilayah Italia dan hanya berjarak sekitar 120 kilometer dari pantai Tunisia. Pulau tersebut dikenal menjadi salah satu titik transit imigran ilegal dari Benua Afrika menuju Eropa.

Dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dilaporkan, sebanyak 60 imigran gelap asal Timur Tengah diamankan Kepolisian Resor Pacitan, Jumat. Mereka ditangkap saat baru tiba dari Jawa Barat dan hendak menyeberang ke Australia melalui pantai Donorojo yang berada di pesisir selatan Jawa.

Kepala Polres Pacitan Ajun Komisaris Besar M Agung Budiono mengatakan bahwa imigran yang terdiri dari 55 laki-laki dewasa, tiga anak-anak, dan dua perempuan dewasa itu tiba di Pacitan menggunakan sembilan kendaraan pribadi. Rombongan tiba sekitar pukul 02.00. Sebagian besar imigran tersebut berasal dari Irak. (MTH/NIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau