Kampus UMN Perkenalkan Teknologi "Double Skin"

Kompas.com - 09/09/2012, 15:58 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com - Perancang gedung tersebut, Budiman Hendropurnomo, mengatakan bahwa penghematan energi dalam gedung ini dapat mencapai 49 persen, jika dibandingkan dengan pemakaian energi di gedung yang tidak hemat energi. Budiman berani membuktikannya. 

Konsep gedung New Media Tower bukan hanya tampak unik. Gedung dengan bentuk oval menyerupai telur ini juga memanfaatkan teknologi sederhana, namun efektif untuk mengurangi pemakaian energi.

Lapisan berwarna abu-abu di bagian terluar gedung ini merupakan salah satu ciri khas New Media Tower dan gedung-gedung lain di kompleks UMN. Lapisan ini disebut dengan double skin atau "kulit luar". Enam gedung dalam komplek UMN ini akan rampung pada 2028 mendatang.

Hampir sama seperti apa yang dilakukan pada Edogawa Garage Club di Jepang, gedung baru UMN ini juga "melapisi" gedungnya dengan teknologi double skin facade. Dengan demikian, teknologi double skin telah resmi sampai dan digunakan di Indonesia.

Budiman mengatakan, teknologi double skin pada New Media Tower merupakan salah satu upaya mengurangi efek teriknya sinar matahari. Double skin memanfaatkan material aluminium perforated yang didesain dengan pola tertentu. Pola ini mampu membantu mereduksi panas matahari langsung.

"Selain itu juga memberikan penerangan yang optimal terhadap ruang-ruang kelas di dalamnya," ujar Budiman di sela peresmian gedung baru New Media Tower di kampus UMN, Serpong, Tangerang, Sabtu (8/8/2012).

Pemakaian aluminium perforated "menghalangi" 50 persen cahaya yang masuk ke jendela kaca  pada "kulit kedua" yang berbentuk jendela jungkit. Kulit dalam ini dapat dibuka dan ditutup untuk kebutuhan cross ventilation.

Di antara kedua kulit tersebut terdapat jarak 70 cm untuk mempermudah pembersihan kaca. Selain itu, jarak ini juga memudahkan pergerakan untuk membuka jendela jungkit. Budiman menegaskan, penggunaan double skin yang seolah "menutup pemandangan" dari dalam gedung ini adalah langkah tepat.

"Mulai banyak gedung perkuliahan menggunakan kaca. Ternyata gedung perkuliahan menggunakan kaca tidak terlalu cocok, khususnya untuk ruang kuliah. Akhirnya ditutup korden juga karena terlalu silau," kata Budiman. 

"Gedung-gedung kaca biasanya membuat penerangan terlalu terang dan energi yang digunakan untuk AC juga terlalu besar," ujarnya.

Menurut dia, karyawan dalam gedung perkantoran juga membutuhkan jendela-jendela besar agar dapat melihat pemandangan di luar. Ini dilakukan sekedar mencari inspirasi atau menghilangkan stres menghadapi runititas sehari-hari.

Namun, berbeda dengan gedung perkantoran, fokus yang ingin dicapai dalam kegiatan perkuliahan justru lain. Dalam kegiatan belajar-mengajar, mahasiswa seharusnya berkonsentrasi penuh pada materi, bukan pemandangan. Terlebih lagi, banyaknya cahaya masuk ketika menggunakan proyektor dalam kegiatan belajar justru akan menyulitkan.

"Dengan menggunakan double skin, pendingin udara hanya dialirkan pada ruang-ruang kelas. Lorong-lorong di luar kelas tidak memerlukan pendingin udara, karena angin dapat lewat dengan bebas," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Universitas Multimedia Nasional (UMN), Sabtu (8/8/2012) kemarin, meresmikan gedung baru New Media Tower. Gedung ini berada di dalam lingkungan kampus UMN di Serpong, Tangerang. Pendiri UMN dan Harian Kompas Jakob Oetama sendiri yang meresmikan gedung tersebut dengan melepas beberapa ekor burung merpati di lantai dasar New Media Tower.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau