Terorisme

Bom Depok Bukan Tujuan Akhir

Kompas.com - 10/09/2012, 01:44 WIB

Jakarta, Kompas - Ledakan bom rakitan di Beji, Depok, Sabtu malam, kemungkinan besar terkait dengan temuan bahan peledak di Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat. Polisi juga mendalami kemungkinan keterkaitannya dengan aksi teror di Solo, Jawa Tengah. Ledakan bom rakitan di Beji bukan tujuan akhir aksi terorisme kelompok yang sedang diungkap aparat keamanan.

”Kami belum tahu apakah (ledakan terjadi) saat perakitan atau salah penanganan saat merakit. Ledakan bom rakitan di Beji bukan merupakan tujuan atau sasaran akhir,” kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto di Jakarta, Minggu (9/9).

Di lokasi ledakan, sebuah rumah di Jalan Nusantara Raya 63, Beji, polisi menemukan bahan peledak dalam jumlah besar, bom aktif, pistol pietro baretta, dan dua senjata rakitan sejenis mitraliur. ”Cukup banyak (bahan peledak), belum ditimbang,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, seusai meninjau lokasi ledakan, Minggu dini hari.

Kemungkinan keterkaitan ledakan di Beji dengan temuan bahan peledak di Tambora didasarkan pada temuan surat. Menurut Ansyaad, surat wasiat diduga ditulis M Thoriq yang ditujukan kepada keluarga. ”Dia minta rida Tuhan,” katanya.

Minggu petang, Thoriq menyerahkan diri kepada anggota kepolisian di Pos Polisi Jembatan Lima, Tambora. Saat ini, Thoriq diperiksa di Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya. ”Dia menyerahkan diri, tidak dalam keadaan terluka. Dia mengaku berada di lokasi ledakan di Beji saat kejadian,” ujar Komisaris Besar Rikwanto, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya.

Tiga orang terluka

Ledakan keras terjadi Sabtu sekitar pukul 21.10. Jaraknya hanya 5 meter dari sebuah menara jaringan listrik tegangan tinggi. Di rumah petak berukuran sekitar 4 meter x 3 meter di Beji itu terpasang spanduk bertuliskan ”Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara”. Ledakan menjebol atap, pintu, dan dinding.

Akibat ledakan itu, tiga orang terluka, satu di antaranya terluka parah. Ledakan ini berselang tiga hari setelah penangkapan terduga teroris, Firman, di Perumahan Anyelir 2, Depok.

Ansyaad mengemukakan, senjata baretta yang ditemukan di Beji hampir bisa dipastikan berasal dari luar negeri. Polisi mendalami keterkaitan ledakan ini dengan terorisme Solo karena kemiripan temuan senjatanya.

Dari keterangan sejumlah saksi di Beji, dua orang melarikan diri dari lokasi seusai ledakan. Dani Aditya (27), yang rumahnya terletak di depan rumah kontrakan yang meledak, mengatakan, ”Dua orang lari. Laki-laki cuma pakai celana, berlumuran debu rumah. Salah satunya bahkan teriak ’kiamat’,” ujarnya.

Dani menceritakan, seusai ledakan, ia bersama enam orang lain langsung menuju rumah kontrakan itu. Dari pintu yang jebol, ia melihat satu orang tergeletak dengan luka parah.

Penangkapan di Ambon

Di rumah di dekat perumahan BTN Manusela, Desa Batu Merah, Sirimau, Ambon, Maluku, Minggu, polisi menangkap empat orang terduga teroris. Dalam penangkapan tanpa perlawanan itu, polisi mendapati senjata SS 1, MK 3, granat, dan ratusan amunisi.

Menurut Amril (40), warga yang tinggal di dekat lokasi kejadian, polisi bersenjata lengkap tiba sekitar pukul 17.00. Menurut Hawa (55), warga lainnya, empat orang yang ditahan belum setahun tinggal di rumah itu. Mereka tertutup sehingga warga tak tahu nama dan pekerjaan mereka. Hingga pukul 21.00 kemarin, polisi masih berjaga. Operasi penangkapan dilakukan tim dari Jakarta.

Dari Rusia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta polisi gigih berupaya mencegah, membatalkan atau menghambat aksi teror. Presiden meminta masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, terutama ketika mendapati hal ganjil.

(RTS/APA/RAY/BRO/MDN/ART/FER/PPG/RIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau