Tujuh Rekor PON Pecah

Kompas.com - 10/09/2012, 03:17 WIB

Pekanbaru, Kompas - Tujuh rekor nasional langsung dipecahkan oleh para perenang nasional pada hari pertama penyelenggaraan cabang renang PON XVIII Riau, Minggu (9/9), di Pekanbaru. Di cabang loncat indah, DKI Jakarta berbagi emas dengan Jawa Timur.

Peraih empat emas SEA Games 2011, I Gede Siman Sudartawa, membuka kejutan dengan mematahkan rekor PON atas nama guru renangnya, Felix C Sutanto, di nomor 200 meter gaya punggung putra. Di nomor itu, Siman yang mewakili Riau merebut emas dengan catatan waktu 2 menit 5,01 detik atau 3,87 detik lebih cepat dibandingkan dengan catatan waktu Felix.

Kemenangan Siman disambut sorak-sorai pendukung tuan rumah. Medali perak dan perunggu di nomor ini direbut Ricky Anggawijaya (Jawa Barat) dan Putu Takahide Valentino (Bali).

Yessy Yosaputra yang juga meraih emas SEA Games 2011 berhasil memecahkan rekor PON yang disandang Elsa Manora Nasution selama 16 tahun. Berlaga di nomor 200 punggung putri, Yessy merebut emas dengan catatan waktu 2 menit 21,34 detik atau 0,54 detik lebih cepat dibandingkan dengan rekor yang dicetak Elsa tahun 1996.

Sayangnya, catatan waktu Yessy masih terpaut 6 detik dari waktu terbaiknya yang dibuat pada SEA Games 2011.

Patricia Yosita yang mewakili Sumatera Barat, juga membuat masyarakat Minang di Riau bersorak-sorai, dengan merebut emas dan memecahkan rekor PON di nomor 100 meter gaya bebas putri. Patricia mencatat waktu 58,09 detik, lebih cepat 0,62 detik dari Nancy Suryatmadja yang dibuat pada 2008.

Di nomor 400 meter gaya ganti perseorangan putra, M Akbar Nasution dari Sumatera Selatan, menajamkan rekornya sendiri yang dibuat pada tahun 2004. Akbar merebut emas dengan catatan waktu 4 menit 31,26 detik atau 0,5 detik lebih cepat dari rekornya sebelumnya.

Akbar sempat tertinggal pada 200 meter pertama dari Rodrick Luhur dari DKI. Namun, di saat gaya dada di meter ke-300, Akbar mulai menyalip Rodrick dan terus melaju sampai menyentuh lantai finis lebih dulu.

Pemecahan rekor PON kelima terjadi di nomor 200 meter gaya ganti perseorangan putri. Ressa Kania Dewi dari Jabar mencetak waktu 2 menit 21, 52 detik.

Tim estafet Jawa Barat yang dimotori Glenn Victor Sutanto juga memecahkan rekor PON dan hampir menyamai rekor nasional yang diciptakan tim Indonesia. Sempat bersaing dengan tim DKI Jakarta di dua balap awal, tim Jabar akhirnya unggul dengan waktu 7 menit 44,72 detik di nomor estafet 4 x 200 meter gaya bebas.

Tim putri Jabar melengkapi pesta kontingen itu dengan merebut emas keempat melalui nomor estafet 4 x 200 meter gaya bebas putri.

Meskipun terjadi tujuh rekor PON baru pada tujuh nomor yang dilombakan, pelatih kepala tim nasional renang, Hartadi Nurtjojo, merasa tidak puas. Catatan waktu para perenang itu masih banyak yang di bawah waktu terbaik mereka.

”Kondisi banyak perenang setelah SEA Games 2011 turun drastis. Kami harus bekerja keras untuk menaikkan lagi kondisi mereka,” kata Hartadi.

Loncat indah

Sementara usaha DKI Jakarta untuk membangkitkan cabang loncat indah mulai mendapatkan hasil. Setelah bertahun-tahun membina atlet-atlet muda dan sering gagal di PON, DKI mulai mendapatkan emas pertama di cabang ini, Minggu (9/9).

Emas bagi DKI direbut pasangan Sari Ambarwati dan Maria Natalie Dinda di nomor sinkronisasi papan 3 meter putri. Sari adalah atlet senior yang dipasangkan dengan Dinda yang masih remaja.

”Kami berjuang keras untuk mengadakan pembibitan dan kini mulai berhasil,” kata Harli.

Sementara itu, Jawa Timur merebut emas kedua di cabang ini setelah pasangan atlet nasional, M Nasrullah dan Luthfi Niko Abdillah, tampil luar biasa di nomor sinkronisasi 10 meter menara putra. (ECA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau