Afrika

Parlemen Somalia Siap Pilih Presiden Baru

Kompas.com - 10/09/2012, 08:47 WIB

MOGADISHU, KOMPAS.com -  Parlemen Somalia dijadwalkan memilih presiden baru negeri itu, Senin (10/9/2012) di tengah kekhawatiran pemilihan bersejarah ini tak berpengaruh banyak bagi kondisi politik negeri itu.

Disebut sebagai tonggak sejarah negeri yang lama dikoyak perang itu, pemilihan presiden pertama Somalia dalam beberapa dekade terakhir ini diharapkan bisa meredakan dua dekade perang.

Demi keamanan, maka pemilihan presiden yang akan dilakukan para anggota parleman itu digelar di Akademi Kepolisian Mogadishu yang dijaga ketat.

Sebanyak lebih dari 20 orang kandidat memperebutkan posisi ini termasuk presiden dan perdana menteri saat ini, serta sejumlah tokoh Somalia di manca negara yang kembali ke negeri itu.

Jika tak seorang kandidatpun yang meraih dua pertiga suara di putaran pertama dan meraih mayoritas suara di putaran kedua, maka pemilihan akan dilangsungkan hingga putaran ketiga.

Sejak perang saudara merebak di negeri tanduk Afrika itu pada 1991, secara praktis tak ada pemerintahan pusat yang efektif di Somalia.

Sehingga, pemilihan presiden ini dilihat sebagai titik puncak peta jalan damai yang disponsori PBB dan Uni Afrika untuk menghentikan konflik bersenjata yang sudah memakan puluhan ribu jiwa itu.

Pemilihan presiden ini bisa terlaksana atas peran pasukan Uni Afrika, Kenya dan Ethiopia yang berhasil mendesak kelompok militan Al-Shabab di banyak wilayah negeri itu.

Keberhasilan pasukan Uni Afrika itu tak hanya membuat pemilihan presiden bisa digelar namun kondisi umum di sebagian wilayah Somalia mulai relatif aman sehingga sebagian pengungsi sudah mulai berani kembali ke kampung halamannya.

Korupsi dan Kecurangan

Namun, kondisi yang mulai membaik ini dikotori tindak korupsi dan akibatnya sudah mengakibatkan sejumlah kemunduran.

Beberapa kandidat presiden dan sejumlah tokoh Somalia mengkritik proses pemilihan presiden. Mereka mengatakan dengan sistem saat ini maka pemerintahan baru tak akan berbeda dengan pemerintahan lama.

Sejumlah sumber diplomatik mengatkan jutaan dollar Amerika dikucurkan untuk membayar anggota parlemen untuk memilih kembali presiden saat ini, Sheikh Sharif Ahmed.

Sumber itu mengatakan uang jutaan dollar Amerika itu datang dari para pebisnis Somalia di negara-negara Teluk. Beberapa dari mereka bahlan memiliki koneksi dengan para panglima perang untuk mempertahankan status quo.

Kantor kepresidenan Somalia sejauh ini tak bisa dihubungi untuk dimintai komentar soal tudingan penyuapan itu.

Namun, dalam banyak kesempatan Presiden Sheikh Ahmed selalu membantah berlaku curang untuk memenangkan pemilihan presiden Somalia.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau