Dukung Jokowi, Nasib Iklan APPSI 'Divonis' Besok

Kompas.com - 11/09/2012, 18:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) DKI Jakarta telah merampungkan rekonstruksi kasus iklan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) yang dilaporkan oleh tim pemenangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Panwaslu DKI Jakarta akan mengumumkan putusannya Rabu (12/9/2012) besok.

"Hari ini kami sudah menyelesaikan pertemuan dengan tim kampanye Jokowi-Basuki, Denny iskandar, tim kampanye Foke-Nara, Dasril Affandi, dan dari APPSI. Besok, kami akan mengumumkan putusan terkait iklan APPSI," ujar Ketua Panwaslu DKI Ramdansyah di Gedung Prasada Sasana Karya, Jakarta Selasa (11/9/2012).

Hal tersebut disampaikan oleh Ramdansyah seusai menggelar pertemuan untuk mediasi dengan mengundang pihak pelapor, terlapor dan pihak terkait hari ini di Kantor Panwaslu. Mediasi tersebut, dikatakan Ramdansyah, telah mencapai sejumlah kemajuan untuk penyelesaikan kasus tersebut.

Kemajuan yang dimaksud Ramdansyah, salah satunya adalah permintaan maaf dari tim Jokowi-Basuki dan APPSI. Tim kampanye Jokowi-Basuki, Denny Iskandar berharap permintaan maaf dari pihaknya diterima oleh pelapor, tim Foke-Nara.

"Mudah-mudahan tim Foke-Nara memaafkan kami. Kawan-kawan tim Foke-Nara menjadi pelajaran bagi tim Jokowi-Basuki untuk tidak terjebak dalam persoalan di wilayah abu-abu," katanya.

Dia menyebutkan iklan tersebut adalah kekhilafan dari APPSI mengenai jadwal sosialisasi kampanye. Jadwal tersebut mungkin tidak sampai kepada unit terkecil.

Sementara itu, Sekretaris Tim Advokasi Foke-Nara, Dasril Affandi, mengatakan permintaan maaf tidak otomatis membuat pihaknya akan mencabut laporan di Panwaslu. Sebab, iklan APPSI itu menurutnya telah memenuhi unsur terjadinya pelanggaran. Misalnya ada penyampaian visi dan misi, mengingatkan soal pemilihan pada 20 September, ada penampilan sosok Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama.

"Permintaan maaf pribadi tak masalah, tapi harus ada offering yang ditawarkan biar tercipta win-win solution. Permintaan maaf secara pribadi tidak masalah. Untuk itu, kami meminta Panwaslu untuk berani bersikap tegas dan dapat memberikan sanksi," ujarnya.

Permasalahan ini bermula pada pelaporan tim advokasi pasangan calon gubernur wakil gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli melaporkan adanya iklan kampanye diluar jadwal pasangan calon Jokowi-Basuki. Iklan tersebut sudah disiarkan oleh beberapa stasiun televisi swasta.

Tim Foke-Nara selanjutnya menyebutkan bahwa iklan tersebut tidak gentle karena mendompleng Asosiasi Pedagang Pasar. Sementara itu, barang bukti yang diberikan oleh tim Foke-Nara adalah rekaman dalam bentuk DVD iklan di beberapa stasiun televisi swasta. Iklan berbau kampanye itu disiarkan oleh Trans7, MetroTV, TVOne, dan TransTV serentak pada tanggal 27 Agustus 2012.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau