Botol Plastik, antara Sampah dan Inspirasi....

Kompas.com - 13/09/2012, 13:03 WIB

KOMPAS.com - Penemuan besar bukan berarti hanya membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Memanfaatkan barang-barang bekas atau telah dianggap menjadi "sampah" juga sebuah penemuan besar.

Di seluruh dunia, jutaan botol plastik digunakan dan dibuang setiap harinya. Tumpukan plastik tidak terpakai ini seharusnya dapat dimanfaatkan untuk lebih banyak kegunaan.

Kini, sudah ada segelintir orang memanfaatkan botol plastik bekas untuk berbagai keperluan rumah tangganya. Anda mungkin terkejut dengan penggunaan ulang botol-botol plastik ini. Atau, Anda justru terinspirasi memanfaatkannya. Simak berikut ini:

Lampu dari botol

Ribuan keluarga di Filipina telah mencoba cara ini. Walaupun tanpa listrik, mereka dapat memiliki penerangan di dalam rumah karena sebuah botol plastik.

Cara kerja lampu dari botol ini sederhana. Botol yang telah diisi penuh oleh air direkatkan pada genteng. Sebagian botol akan berada di luar atap, sedangkan sebagian lainnya ada di dalam ruangan.

Fungsinya? Botol-botol tersebut ternyata bermanfaat sebagai skylight. Ia mampu merefleksikan sinar matahari ketika siang. Secara efektif, ia akan berfungsi sebagai lampu selama sinar matahari masih bersinar, walaupun tanpa listrik.

Organisasi Isang Litrong Liwanang atau Satu Liter Cahaya telah memulai proyek ini beberapa tahun lalu. Illac Diaz, seorang pelajar Filipina, merupakan otak di balik ide cerdas ini.

Bagi Anda yang lebih beruntung dan memiliki akses pada aliran listrik, Anda dapat membuat lampu hias cantik dari botol bekas. Pengalaman seorang Sarah Turner, misalnya. Sarah sudah mencoba membuat lampu hias berbentuk bola raksasa dari puluhan botol plastik.

Bola yang dibuat oleh Sarah ini bernama "Twitter Ball". Sarah adalah pemenang Spring Greening Contest 2010. Ia menggunakan 562 "pantat" botol plastik yang digabung menjadi sebuah bola besar. Setiap ujung botol ini akan berisi LED. LED lalu terhubung dengan situs jejaring sosial Twitter.

Uniknya, ketika ada satu kata yang ditulis seperti recycling dan ocean, misalnya, Twitter Ball ini akan mengeluarkan warna berbeda.

Taman hidroponik mini

Botol plastik bekas yang digantung-gantung bukan hanya dapat dijadikan sebagai lampu. Dengan mengisinya menggunakan media hidroponik atau tanah, Anda dapat menciptakan taman gantung di rumah Anda sendiri.

Konsepnya sederhana. Ketimbang harus membeli pot, Anda hanya menggunakan botol bekas untuk taman Anda. Botol bekas juga dapat Anda manfaatkan sebagai sistem penyiraman taman kecil Anda.

Dinding plastik

Ini adalah penggunaan kembali botol plastik yang paling radikal. Sebuah rumah di Honduras misalnya, terbuat dari 8.000 botol plastik. Rumah ini bernama Casa de la Fe atau Rumah Harapan. Saat ini rumah tersebut digunakan sebagai pusat rehabilitasi dan integrasi para penyandang cacat.

Selain di Honduras, Anda juga dapat menemukan rumah dari botol plastik di Afrika, Taiwan, Argentina, dan Tokyo. Nah, bagaimana dengan di Indonesia? 

Salah satu yang melakukan ide ini adalah Ridwan Kamil, arsitek terkemuka Indonesia saat ini. Ridwan menerapkan pemakaian botol bekas ini dengan sangat baik pada rumah pribadinya di kawasan atas Kota Bandung, tepatnya di Cigadung Selatan, Bandung, Jawa Barat.

Rumah Botol milik Ridwan ini juga sungguh nyaman, indah, bahkan sangat hijau dan unik (Rumah Botol Ridwan, Rumah dari 30.000 Botol....). Betapa tidak. Selain sirkulasi udara sangat baik di dalam rumah ini, pemakaian cahaya alami juga sangat efisien berkat pemakaian 30.000 botol bekas minuman energi sebagai elemen estetika utama rumah ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau