Jawa Barat Berharap Jadi Tuan Rumah PON

Kompas.com - 13/09/2012, 16:03 WIB

 

BANDUNG, KOMPAS.com - Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, berjanji akan membuat persiapan lebih baik terkait arena pertandingan bila nanti mereka ditunjuk selaku tuan rumah Pekan Olahraga Nasional tahun 2016. Dia tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap pelaksanaan PON yang tengah berlangsung di Riau.

Hal tersebut dikemukakan Dede sewaktu ditemui di Gedung Sate, Bandung, Kamis (13/9/2012). Dia mendapatkan laporan dari kontingen Jabar yang bertanding di sana mengenai fasilitas penginapan, air bersih hingga makanan yang sering telat.

"Saya yakin chief of mission yakni Pangdam III Siliwangi beserta Ketua Umum KONI Jabar sudah menyampaikan protes mereka," kata Dede.

Dia berujar, bila Jabar keluar sebagai juara umum, peluang menjadi tuan rumah PON 2016 makin terbuka. Dia berharap posisi Jabar yang masih memimpin klasemen hingga kini tidak bergeser hingga berakhir sehingga harapan tersebut bisa tercapai.

Disinggung mengenai kesiapan arena pertandingan, Dede memastikan bakal dipersiapkan lebih baik. Ditambah lagi, Jabar sudah memiliki arena olahraga yang bisa dimanfaatkan seperti Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung atau Stadion Siliwangi di Kota Bandung.

"Jangan sampai kita membangun tapi hanya terpakai dua minggu, sisanya jadi alang-alang saja," kata Dede.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau