Stres! Santri di Sampang Panjat Tower

Kompas.com - 15/09/2012, 10:10 WIB

SAMPANG, KOMPAS.com — Diduga stres, David (18), remaja asal Dusun Pereng, Desa Kemuning, Kecamatan Kota Sampang, Jawa Timur, Jumat (14/9/2012), nekat menaiki tower operator seluler setinggi lebih dari 52 meter.

Aksi yang dilakukan santri Ponpes Al-Ashari, Komis, Kecamatan Kedungdung Sampang, ini membuat warga kebingungan untuk membujuknya turun dari atas tower. Kejadian itu juga menjadi tontonan warga yang sedang melintas di jalan.

Menurut Juki (55), warga setempat, ia mendengar orang berteriak. Setelah diselidiki, teriakan itu menyusul ditemukannya David di atas tower. Awalnya, tak ada yang yakin siapa identitas pria di atas menara itu. Namun Hasyim, paman David, memastikan kalau yang memanjat menara itu adalah keponakannya.

Kata Hasyim, tiga hari yang lalu David sudah diantar kembali ke pondoknya. Namun, tiba-tiba kembali pulang dan langsung memanjat tower lagi. "Mungkin dia sedang stres," duga Hasyim.

Kejadian ini sudah kedua kalinya. Kejadian pertama karena minta dibelikan motor dan sudah dipenuhi. Namun, motor itu kemudian dibuat kebut-kebutan. "Kalau yang kedua kalinya ini saya tidak paham," imbuhnya.

Butuh waktu lebih dari dua jam untuk membujuk David agar turun dari atas tower. David adalah putra pertama dari empat bersaudara pasangan Zeinullah (45) dan Luluk (40).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau