JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar keuangan global masih mengalami eforia pascastimulus baru di Amerika Serikat diumumkan pekan lalu. Namun kondisi ini justru dapat menimbulkan tekanan bagi nilai tukar rupiah, karena aksi ambil untung di pasar modal.
Nilai tukar rupiah mengalami penguatan kembali menembus level Rp 9.484 per dollar AS (kurs tengah Bloomberg) pada akhir perdagangan pekan lalu.
Penguatan signifikan juga terjadi pada bursa Asia termasuk Indonesia. IHSG menembus level tertinggi baru di 2.457 atau naik 2,07 persen.
Harga minyak mentah juga naik. Harga Brent menjadi 117,59 dollar AS per barrel (+1,02 persen), dan untuk WTI menjadi 99,00 dollar AS per barrel (+0,7 persen).
Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, memprediksi euforia pasar pada akhir perdagangan minggu lalu kemungkinan masih berlanjut pada hari ini.
"Untuk rupiah kemungkinan ada potensi pelemahan kembali ke kisaran Rp 9.500-9.520 per dollar AS," kata Lana di Jakarta, Senin (17/9/2012) ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang