Astra Waspadai Tata Motor

Kompas.com - 18/09/2012, 07:31 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Astra International Tbk (ASII) mewaspadai masuknya produsen motor asal India, Tata Motor ke Indonesia. Masuknya perusahaan India tersebut dikhawatirkan bakal menggerus pangsa pasar Astra.

Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto menjelaskan perseroan tidak akan menganggap remeh pemain baru ataupun lama untuk masuk industri otomotif di tanah air.

"Yang pasti kompetisi tambah ramai. Pasti mereka punya kelebihan-kelebihan. Mungkin ada pengaruh ke pangsa pasar (market share) kami," ujar Prijono saat ditemui di Indonesia Investment Forum yang digelar Bank Mandiri di Hotel Four Seasons Jakarta, Senin (17/9/2012).

Menurut Prijono, di masa jayanya, pangsa pasar Astra International dengan penjualan mobil Avanza dan Xenia bisa mencapai 78 persen. Bila digabung dengan penjualan motor, pangsa pasarnya bisa mencapai 89 persen. Namun dengan masuknya kompetitor, pangsa pasarnya saat ini menjadi sekitar 50 persen. Apalagi dengan pemberlakuan aturan uang muka kredit motor dan mobil sekitar 25 persen dari harga motor dan mobil, maka berpeluang untuk menurunkan penjualannya.

"Kita akan lihat penjualan pada September ini, ada penurunan atau tidak. Yang pasti, ke depan kita akan hati-hati. Kita bersyukur masih bisa meraih pangsa pasar 50 persen. Kita sudah lakukan diversifikasi bisnis," tambahnya.

Prijono masih optimistis kinerja perusahaan yang dipimpinnya masih menghasilkan hasil yang cemerlang di tahun ini. Hal itu dibuktikan dengan jumlah pelanggan yang signifikan dan memiliki layanan purna jual yang cukup mapan.

Menghadapi persaingan Tata Motor, Astra International juga berencana merilis mobil hybrid. Saat ini, pihak Daihatsu Motor Corporation Jepang telah meminta kepada Astra Daihatsu Motor untuk merelokasi Research and Development ke Karawang.

"Mudah-mudahan dalam 5-7 tahun lagi kita akan kembangkan di Karawang. Nanti kita akan lihat apakah kita bisa produksi mobil hybrid itu atau tidak. Kita lihat prioritasnya apakah hybrid, gasoline atau diesel. Kita lihat nanti," jelasnya.

Sekadar catatan, PT Tata Motors Indonesia (TMI) akhirnya resmi mengumumkan kehadirannya di Indonesia, Selasa (11/9/2012). Ravindra Pisharody, Executive Director Tata Motors Limited mengatakan, pasar mobil Indonesia sudah membuktikan yang terbesar sejak tahun lalu. Ini menjadikan Indonesia sebagai prioritas utama Tata di masa depan.

"Kami sudah menyiapkan rencana investasi untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor ke negara ASEAN," kata Ravindra.

Dalam beberapa bagian dunia, lanjutnya, Tata Motor tidak hanya impor, tapi berkomitmen untuk investasi. Perencanaan yang matang dalam jangka waktu yang panjang. Biswadev Sengupta, President Director TMI mengatakan, hasil riset yang dilakukan Tata pada Indonesia menunjukkan peluang yang besar.

"Kami sadar sudah ada persaingan sangat ketat di Indonesia. Tapi, kami berkomitmen untuk Indonesia dan untuk tetap tinggal di sini," tambahnya.

Saat ini, TMI tengah mencari lokasi pembangunan pabrik dan jumlah investasi yang akan disiapkan untuk Indonesia. Sayang, Biswadev masih belum mau menjelaskan lebih jauh rencana itu.

"Dalam 6-7 bulan ke depan baru kita bisa rencana investasi ini," tegasnya. Berdasarkan perdangan saham kemarin, saham ASII ditutup bertahan pada level Rp 7.450 per lembar saham.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau