Tanah air

Gemulai Ikan Nila di Danau Batur

Kompas.com - 18/09/2012, 17:50 WIB

Oleh Ayus Sullistyowati dan Cokorda Yudhistira

Wayan Sana (52) gembira karena ikan nila hasil tangkapan jaring tradisional miliknya di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Selasa (4/9) sore, itu laku cepat. Berada di atas sampan miliknya, ia menerima uang lebih dari Rp 170.000.

Tak hanya Sana, beberapa nelayan tradisional menangkap ikan nila dan mujair secara manual dengan jaring di sekitar kaldera Danau Batur. Danau yang indah ini menjadi tempat finis rute etape kedua Bali Bike.

Sana dan teman-temannya bisa meraup untung dari penjualan ikan seharga Rp 17.000 per kilogram pada sejumlah restoran di sekitar danau. Kalau sedang mujur, setiap hari Sana bisa memasok nila sekitar 10 kilogram.

”Kami turun-temurun mencari ikan di (Danau) Batur ini. Lumayan hasilnya. Anak saya sudah lulus kuliah di IKIP Denpasar,” kata Sana sambil duduk di atas sampannya dan menjaga keseimbangan.

Ikan nila dan mujair berukuran besar biasanya habis terjual ke restoran. Sementara ikan berukuran kecil dijual kepada pengepul untuk nantinya dipasarkan lagi ke pasar tradisional di Kintamani.

Masyarakat di sekitar Batur selama ini menggantungkan hidup pada perikanan di Danau Batur. Sebagian besar mereka berasal dari Desa Buahan, persis di selatan Danau Batur. Ikan nila dan mujair menjadi andalan utama. Pendapatan nelayan budidaya ikan nila, terutama dengan keramba apung, tercatat lebih dari Rp 3 juta per bulan.

Bercocok tanam pun tak kalah menghasilkan rupiah. Bawang merah dan cabai dengan mudah didapatkan di desa-desa sekitar kaldera. Produksi tahun 2011 mencapai ribuan ton untuk nila dan bawang merah. Petani pun kewalahan melayani pesanan, termasuk bibit nila.

Camat Kintamani Wayan Dirgayusa mengatakan, warganya masih setia dengan pertanian dan perikanan. Yang berurbanisasi pun kecil. Bahkan, iming-iming industri pariwisata, seperti di Kota Denpasar dan Badung, tak mampu menarik mereka untuk meninggalkan daerahnya.

”Sekarang kami tak hanya bangga dengan keberhasilan pertanian dan perikanan di sini karena keagungan Gunung Batur dan Danau Batur sudah diakui dunia sebagai warisan budaya. Sekarang kami tengah menata manajemen dan database untuk kesiapan usulan kawasan geopark Batur,” ujarnya.

Melawan urbanisasi

Bupati Bangli Made Gianyar mengakui, daerahnya memang satu-satunya wilayah yang tak memiliki pantai seperti delapan kabupaten/kota lainnya di Bali. Namun, ia meyakini masyarakat Bangli pekerja keras dan mampu melawan urbanisasi serta menekan alih fungsi lahan. Ia pun justru belajar dari kearifan lokal serta kehidupan warganya seperti di Kintamani.

Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Kabupaten Bangli 215.353 jiwa, terdiri dari 109.109 laki-laki dan 106.244 perempuan. Sebanyak 42 persen penduduknya tinggal di Kecamatan Kintamani dan lainnya tersebar di tiga kecamatan lainnya, yaitu Susut (43.202 orang), Bangli (48.267 orang), dan Tembuku (33.806 orang).

Kawasan Batur memiliki keunggulan pesona alam sebagai obyek wisata. Letaknya berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut dengan udara berhawa sejuk pada siang hari dan dingin pada malam hari. Jaraknya dari kota Bangli sekitar 23 kilometer. Jalanan menuju kawasan Batur sudah mulus dan mudah dijangkau.

Dampak meletusnya Gunung Batur pada 1917, Pura Batur yang berada di kaki barat daya Gunung Batur dipindahkan tak jauh dari tempat asalnya. Sisa-sisa lahar yang membeku menyerupai batu berwarna hitam. Batu-batu itu bentuknya beragam. Ada yang menyerupai burung garuda.

Gunung Batur dalam Lontar Susana Bali merupakan puncak dari Gunung Mahameru yang dipindahkan Bathara Pasupati untuk dijadikan Sthana Betari Danuh (Istana Dewi Danu). Karena kesaktiannya, pada waktu tertentu seluruh umat Hindu Bali yang berasal dari sejumlah daerah datang ke Gunung Batur untuk menghaturkan sesaji agar terhindar dari bencana, terutama hama tanaman.

Bagi umat Hindu Bali, air merupakan sumber kehidupan yang begitu disucikan sehingga menjadi wajib untuk dipelihara. Begitu pula Danau Batur. Apa pun cerita yang menyandingnya, Danau Batur merupakan pengejawantahan Dewa Wisnu.

Pendeta Hindu Ida Pendanda Sebali Tianyar Arimbawa menjelaskan, air, termasuk Danau Batur, sebagai lambang kemakmuran, kesejahteraan, kesehatan, dan kesucian. ”Dewa Wisnu memberikan lambang kehidupan. Wajib bagi umat memelihara dan menjaga kesuciannya serta memanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebenaran,” katanya.

Di Batur juga ada kehidupan masyarakat Bali Aga di Desa Trunyam. Desa yang terletak di tepi timur Danau Batur, tepatnya di Gunung Abang bersebelahan dengan Gunung Batur, ini memiliki tradisi unik. Tradisi ini merupakan warisan desa Bali kuno yang tidak mengenal ngaben seperti umumnya umat Hindu Bali lainnya.

Warga hanya membaringkan jenazah kerabatnya di bawah pohon taru menyan tanpa menguburnya. Jenazah hanya ditutup kain putih dan dilindungi dengan pagar dari belahan bambu. Tradisi itu disebutnya mepasah.

Kehidupan mengalir dan tenang dari tangan-tangan warga. Kearifan lokal menuntun mereka menjadikan nilai-nilai itu bergemulai hidup di Danau Batur.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau