Pencari Suaka Sri Lanka Minta Dikembalikan

Kompas.com - 18/09/2012, 18:07 WIB

CANBERRA, KOMPAS.com - Pengiriman pencari suaka yang masuk ke Australia untuk diproses di Nauru tampaknya mulai berdampak atas kedatangan para manusia perahu tersebut.

Hari Selasa (18/9/2012) beredar kabar bahwa 14 pencari suaka  asal Sri Lanka meminta dipulangkan ke negara asal daripada harus dipindahkan ke Nauru. Kepastian itu disampaikan oleh juru bicara bidang imigrasi oposisi Scott Morrison, namun pemerintah Federal menolak mengukuhkan kebenaran berita tersebut.

Menurut laporan situs news.com.au, laporan tersebut benar namun tidak ada kejelasan mengenai jumlah mereka yang meminta pulang. Faktor bahwa fasilitas yang lebih buruk di Nauru dan kemungkinan proses akan memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum mereka bisa menetap di Australia akan membuat para pencari suaka berpikir kembali untuk melakukan perjalanan laut ke Australia.

Hari Selasa, rombongan kedua berjumlah 36 warga Sri Lanka diterbangkan ke Nauru, sehingga di pulau tersebut sekarang ada 66 warga Sri Lanka. Untuk sementara, semua pencari suaka tersebut adalah pria.

Menteri Imigrasi Australia Chris Bowen mengatakan bahwa nantinya anak-anak dan wanita juga akan dikirim ke Nauru atau ke tempat pemrosesan lainnya di Papua Nugini.

Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L. Sastra Wijaya, pihak oposisi sekarang mempertanyakan kapan para pencari suaka yang tiba dari Indonesia akan dipindahkan ke Nauru. "Kapal yang datang kebanyakan dari Indonesia, namun belum ada satupun dari mereka yang dikirim ke Nauru." kata juru bicara oposisi Scott Morrison.

"Pemerintah harus menyadari bahwa bila mereka bekerja setengah hati, maka pesan yang disampaikan ke kawasan juga setengah hati." kata Morrison.

Namun seorang anggota parlemen dari partai Buruh, Graham Perret mengatakan pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia sedang bekerja keras melakukan kampanye untuk mencegah penyeludupan manusia.

Keterangan pers yang dikeluarkan oleh KBRI di Australia menyebutkan bahwa hari Senin di Bali dilangsungkan pertemuan antara pejabat Australia dengan perwakilan dari 31 provinsi guna meningkatkan kampanye mencegah WNI menjadi anak kapal pembawa pencari suaka.

Hari Rabu (19/9/2012), pejabat Australia dan Indonesia akan mengunjungi Kupang dan desa-desa nelayan di Nusa Tenggara Timur. Kupang merupakan kota utama asal para ABK yang membantu para penyeludup manusia membawa para pencari suaka. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau