Pengidap HIV/AIDS di Jakarta Barat Terus Meningkat

Kompas.com - 19/09/2012, 05:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jumlah pengidap HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya di wilayah Jakarta Barat. Mayoritas yang mengidap penyakit tersebut adalah perempuan karena tertular saat berhubungan seks.

"Penyebaran penyakit ini enggak tentu. Tetapi, mayoritas memang tertular karena hubungan seks. Perempuan ini ditularkan oleh suami mereka," kata Sukarno, Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jakarta Barat, kepada Kompas.com, Selasa (18/9/2012).

Sukarno melanjutkan, penularan juga bisa saja diderita sejak lahir atau seks bebas. Di Jakarta Barat, daerah yang banyak mengidap HIV/AIDS berada di Kalideres dan Tamansari. Setiap tahunnya, jumlah penderita terus meningkat.

Sukarno menjelaskan, sejak tahun 2010 pengidap HIV berjumlah 590 jiwa. Sedangkan tahun 2011 meningkat menjadi 708 kasus yang mengidap virus mematikan tersebut. Pengidap juga banyak yang ditularkan dari penggunaan jarum suntik secara bergantian.

Menurutnya, jumlah pengidap HIV tersebut merupakan perolehan dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pencegahan virus ini pun tergantung dari perilaku masyarakat, bagaimana cara mereka mengatasi penyakit ini dengan melaporkan atau memeriksakan kesehatan ke rumah sakit.

Sukarno mengungkapkan, pemerintah akan terus memperhatikan masyarakat yang terkena virus HIV/AIDS. Masyarakat yang sudah mengidap penyakit tersebut diharapkan bisa beraktivitas dengan normal dengan terus melaporkan kondisi kesehatannya. Selain itu, para pengidap penyakit tersebut bisa memberikan informasi untuk mencegah berkembangnya penyakit tersebut.

Kasi Pengendalian Masalah Kesehatan (PMKes) dr Irma mengatakan, pengidap AIDS memiliki risiko besar untuk menularkan virus kepada janin. Karena masalah itulah, penderita AIDS diharapkan tidak hamil.

Virus dapat diidap oleh keturunan pengidap AIDS. Selain itu, kata dr Irma, penyakit AIDS dapat mengurangi daya kekebalan tubuh manusia. Bagi pengidap HIV/AIDS tidak memiliki tanda-tanda yang menonjol. Tetapi, jika pengidap diserang penyakit lainnya, ia akan sulit sembuh, bahkan menyebabkan kematian karena tidak mempunyai daya tahan tubuh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau