Xi: Beli Pulau ibarat Lelucon

Kompas.com - 20/09/2012, 02:10 WIB

Beijing, Rabu - Wakil Presiden China Xi Jinping, Rabu (19/9), di Beijing, mengolok pembelian pulau sengketa di Laut China Timur oleh Jepang sebagai lelucon. Dia juga mengimbau Tokyo agar ”mengendalikan perilaku” serta menghentikan kata dan tindakan yang melemahkan integritas China.

Pernyataan Wapres China itu terjadi saat rakyat menghentikan protes anti-Jepang di seluruh pelosok negeri, yang mencapai puncak sehari sebelumnya. Pada hari Selasa itu, China juga memperingati pendudukan Jepang yang dimulai tahun 1931.

Relasi antardua raksasa ekonomi Asia itu retak berat, jatuh ke posisi terendah, dalam beberapa dekade ini setelah mereka terlibat sengketa teritorial di Laut China Timur. Wilayah yang dipersengketakan adalah gugus Kepulauan Diaoyu, menurut nama China, atau Senkaku, menurut nama yang diberikan Jepang.

”Jepang sebaiknya mengendalikan perilaku, menghentikan kata dan tindakan yang melemahkan kedaulatan dan integritas teritorial China,” kata Xi dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta, seperti Kantor Berita Xinhua.

Xi dipersiapkan sebagai Ketua Partai Komunis China menggantikan Presiden Hu Jintao, akhir tahun ini. Dia diproyeksikan bakal menjadi pemimpin masa depan China. Itu alasannya sehingga Panetta menyempatkan bertemu Xi Jinping.

Gubernur Tokyo yang nasionalis, Shintaro Ishihara, pekan lalu melayangkan rencana otoritas metropolitan itu membeli pulau sengketa. Hal itu mendorong Pemerintah Jepang membeli pulau tersebut, bukannya berupaya meredakan krisis.

”Jika Jepang menyerahkan masalah ini kepada China, hegemoni China di perairan Asia akan terwujud dengan mudah,” kata Ishihara di depan Majelis Metropolitan Tokyo saat itu.

Pembelian pulau sengketa oleh Tokyo itu telah menuai protes masif anti-Jepang di China sejak Jumat pekan lalu. Ratusan pabrik dan toko milik perusahaan dari ”Negeri Sakura” di China tutup sementara. Pada hari Rabu, aksi massa itu pun menyurut dan ditutup dengan pernyataan Xi yang mengolok pembelian pulau itu sebagai lelucon Jepang.

Bukan jegal China

Kerisauan China atas kehadiran kekuatan AS di Asia Pasifik diredam Panetta. Di depan militer China di Beijing, Panetta mengatakan, kehadiran AS dan simbol-simbolnya di Asia Pasifik bukan untuk menjegal China.

Panetta menegaskan, pembangunan pangkalan dan penempatan kapal perang adalah bagian dari upaya untuk melibatkan China dan memperluas perannya di Pasifik, serta membangun model hubungan baru kedua negara.

”Ini adalah upaya untuk melibatkan China dan memperluas perannya di Pasifik. Ini terkait upaya menciptakan model baru dalam hubungan kedua kekuatan Pasifik,” kata Panetta.

Para petinggi militer China dalam pertemuan dengan Panetta juga memintanya agar Washington tidak memihak Beijing atau Tokyo dalam sengketa Kepulauan Diaoyu atau Senkaku. Hal itu juga diulangi Menteri Pertahanan China Liang Guanglie dalam jumpa pers bersama Panetta. ”AS agar teguh memegang janji tidak berpihak” terkait sengketa itu.

Pertemuan dengan Panetta adalah kemunculan pertama Xi di depan publik setelah absen tanpa kejelasan selama hampir dua pekan. Xi terlihat tersenyum saat duduk di samping Panetta. Xi mengatakan melihat orang Amerika ”mengingatkan saya saat berkunjung ke AS” pada Februari. (REUTERS/AP/AFP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau