Film ekstremis

Rusia Ancam Blokir YouTube

Kompas.com - 20/09/2012, 02:12 WIB

MOSKWA, SELASA - Pemerintah Rusia, Selasa (18/9), mengancam akan memblokir akses ke YouTube di semua wilayah di negara itu jika situs berbagi video tersebut tidak menghapus film Innocence of Muslims yang menghina Islam.

”Karena video (film) ini, YouTube bisa diblokir di semua wilayah Rusia,” tulis Menteri Komunikasi Rusia Nikolai Nikiforov di akun Twitter-nya.

Pemblokiran akses ke YouTube itu dimungkinkan setelah sebuah undang-undang baru disahkan, 1 November. Berdasarkan UU baru itu, situs-situs internet yang berisi hal terlarang di Rusia akan dimasukkan ke daftar khusus dan diblokir.

Sebelumnya, pihak Kejaksaan Agung Rusia telah menetapkan film Innocence of Muslims sebagai film ekstremis yang berisi sejumlah gagasan ekstremis. Juru bicara Kejagung Rusia, Senin, mengatakan, pihaknya telah meminta pengadilan menetapkan film itu dilarang di Rusia.

Pengadilan punya waktu lima hari untuk mengambil keputusan atas permintaan kejaksaan tersebut. Namun, pengadilan di Rusia biasanya sepakat dengan kejaksaan.

”Jika mereka (YouTube) mematuhi keputusan pengadilan dan menghapus video itu, tak ada yang perlu menutup mereka. Apakah kita harus menunggu sampai gelombang kekerasan sampai ke sini?” tutur Ruslan Gattarov, anggota parlemen dari Partai Rusia Bersatu, yang pertama kali mengusulkan pelarangan film itu ke pihak kejaksaan.

Film yang menghina Islam tersebut telah memicu gelombang aksi protes anti-AS di sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk Indonesia. Di beberapa tempat, protes berubah rusuh, bahkan menelan korban jiwa, termasuk empat diplomat AS yang tewas di kantor Konsulat Jenderal AS di Benghazi, Libya.

Google Inc, yang memiliki YouTube, telah menolak permintaan Gedung Putih untuk menghapus video tersebut.

Menurut kantor berita RIA Novosti, Rabu (19/9), salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Rusia, Rostelecom, menutup akses ke YouTube di Kawasan Omsk, Rusia selatan. Keputusan itu diambil atas permintaan jaksa wilayah yang khawatir film itu akan menyebarkan ide ekstremis.

Di Jakarta, aktivis HAM, Usman Hamid, mengatakan, Pemerintah AS sepantasnya meninjau kembali kebijakan kebebasan berekspresi di negara itu, yang memungkinkan film itu dibuat dan disebarluaskan. Para artis film Indonesia yang tergabung dalam International Peace Ambassadors juga meminta Google dan YouTube menghapus film tersebut.

(Reuters/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau