JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah atas dollar AS, berpotensi bergerak dengan kecenderungan konsolidasi pada perdagangan Kamis (20/9/2012).
Aktivitas di sektor finansial berpotensi berkurang, seiring berlangsungnya Pilkada Jakarta hari ini.
Menurut riset BNI Treasury, kebutuhan dollar AS dari importir diprediksi tetap tinggi, hingga berpeluang memberi sentimen negatif untuk rupiah. Risk appetite global cenderung belum stabil, namun agresifitas pelaku pasar mengoleksi instrumen rupiah diprediksi tetap marak hingga potensi mendukung pergerakan rupiah.
Tipisnya gap antara nilai tukar rupiah onshore dan offshore yang dibuka di level 9.545 per dollar AS untuk non delivery forward (NDF) satu bulan, diprediksi mengurangi fluktuasi tajam rupiah.
Bank Indonesia (BI) juga bakal tetap mengamati volatilitas rupiah, meski ditenggarai tidak akan ikut campur terlalu dalam untuk mengatur pergerakan rupiah. Kemarin rupiah ditutup menguat di level 9.537 per dollar AS.
Rupiah dibuka di level 9.520 per dollar AS setelah bergerak di kisaran 9.520-9.548 per dollar AS. Aliran dana asing yang masuk ke bursa domestik mampu menopang kelanjutan reli indeks. Namun rupiah justru melemah di tengah penguatan dollar AS secara global yang menekan pergerakan rupiah di dalam negeri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang