Saat meninggalkan kampung halaman dan kedua orangtuanya di Alor, Nusa Tenggara Timur, tahun 1993, membuncah harapan pada diri Oki Chris Karipalay (42). Ia ingin mengubah nasib. Impian menjadi petani sawit sukses memantapkan langkahnya ikut program transmigrasi plasma sawit di Desa Bamor Jaya, Kecamatan Petasia Timur, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Maka, bersama sekitar 250 transmigran dari NTT, Oki penuh semangat membuka lahan sawit. Kerja sampingan mencari rotan, damar, atau menjadi buruh harian di kebun sawit milik PT Tamaco dilakoni sembari menunggu sawit berbuah.
Harapan itu mulai berwujud saat sawit mulai dipanen awal tahun 2000-an. Memang saat itu hasil panen sawit belum sebagus sawit di tempat lain, tapi hasil yang belum maksimal ini disyukuri sembari berusaha lebih giat. Hingga akhirnya tahun 2007, sebuah perusahaan tambang masuk ke Desa Bamor Jaya dengan mengantongi izin usaha pertambangan (IUP) untuk nikel. Awalnya satu perusahaan, lalu berganti dengan beberapa perusahaan lain. Tak dinyana, IUP perusahaan ini meliputi permukiman hingga lahan pertanian milik warga. Jalan usaha tani yang juga jalan daerah di sekeliling permukiman mereka kini berubah jadi jalan perusahaan.
Warga dipaksa pasrah menghirup debu tebal berwarna kecoklatan yang diembuskan puluhan dump truck dan alat berat lainnya setiap kali lalu lalang. Jika hujan, jalan pun menjadi bubur lumpur. Kendaraan alat berat memorakporandakan lahan sawit milik warga.
”Lihatlah, tanaman yang kami rawat bertahun-tahun kini banyak yang rusak. Akar pohon terpotong, banyak tanaman yang tercabut gara-gara alat berat. Kami bingung harus bagaimana lagi, ke mana harus mengadu,” kata Oki geram menunjukkan tanamannya awal September lalu.
Edi karibana (52), transmigran lainnya, dipaksa pasrah saat 82 tanaman sawitnya kini rusak dan sebagian tumbang.
Oki dan Edi bercerita, beberapa waktu lalu perusahaan tambang yang beroperasi di desa mereka meminta izin untuk masuk ke lahan sawit milik warga. Saat itu perusahaan mengatakan akan melakukan pengeboran di beberapa titik untuk mengambil contoh tanah dan melakukan penelitian. Untuk masuk, mereka memberi ”uang lewat” Rp 1,5 juta.
Nyatanya, bukan mengebor, perusahaan justru memorakporandakan kebun sawit dengan alat berat. Pantauan di Bamor Jaya menegaskan hal ini. Akar tanaman tergerus di sana-sini, sebagian tumbang. Bekas-bekas ban alat berat atau buldoser tampak di areal kebun hingga membentuk jalan baru.
Nasib lebih pahit dialami 400 keluarga transmigran asal Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang menghuni Desa Lanona, Kecamatan Bungku Tengah, dan Desa Baoea, Kecamatan Bungku Barat. Sejak datang tahun 2009, hingga kini mereka belum sekali pun menggarap lahan pertanian yang seharusnya menjadi hak mereka.
Lahan itu ada dan sudah ditunjukkan oleh pemerintah. Namun, saat akan digarap, mereka harus berhadapan dengan warga setempat yang mengklaim tanah tersebut milik mereka. Transmigran tak bisa berbuat banyak karena mereka tak punya surat tanah dan sebaliknya warga menunjukkan sertifikat mereka
Suriati (45), transmigran asal Cisolok, Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, kini mengisi hari-harinya dengan kerja serabutan—jadi penjaga anak, buruh tani, pencuci piring, dan lainnya—agar bisa makan. Anak sulungnya, Ujang Sunarya, yang kini seharusnya duduk di bangku kelas III SMA, sejak kelas III SMP terpaksa putus sekolah. Bertiga, ayah ibu, dan anak ini menanggung beban keluarga menjadi buruh harian dan kerja serabutan untuk mendapatkan Rp 600.000-Rp 1.000.000 per bulan demi menyambung hidup keluarga.
Mimpi Suriati dan suaminya menjadi petani sukses dan menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi saat meninggalkan Sukabumi tahun 2009 seolah terkubur di Desa Lanona. Kini, anak keduanya yang duduk di kelas I SMP terancam putus sekolah juga karena masalah biaya.
Kepala Bidang Transmigrasi Dinas Transmigrasi Kabupaten Morowali Sukono mengakui masalah ini. Pihaknya tengah merancang jalan penyelesaian masalah ini.
Menurut Sukono, di Morowali ada 38 titik penempatan transmigran dan sebagian besar bermasalah. Penempatan transmigran di Morowali sudah dimulai sejak tahun 1974 dan hingga kini sudah ada 20.000-an keluarga yang datang.
Jangan biarkan harapan transmigran itu terbenam di kubangan lumpur tambang.... (RENY SRI AYU)