Dana Abadi Pendidikan Bisa Dipakai Hanya Bunganya

Kompas.com - 22/09/2012, 10:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, induk Dana Pembangunan Pendidikan Nasional (DPPN) atau dana abadi tak bisa diganggu gugat. Kalaupun benar-benar diperlukan, hanya bunga dari dana itulah yang dapat digunakan.

"Induknya tak bisa diutak-atik, yang kita pakai hanya bunganya," kata Nuh seusai menghadiri rapat kerja bersama Komisi X DPR membahas postur anggaran pendidikan 2013, di gedung parlemen, Jakarta, Jumat (21/9/2012) malam.

Dana abadi sendiri keberadaannya masih menuai sorotan sinis dari Komisi X DPR RI. Pasalnya, dana abadi dinilai tak memiliki dasar hukum dalam perencanaan dan pengelolaannya. Di luar itu, DPR juga menuding dana abadi lahir dari inisiatif pemerintah dengan maksud untuk penyerapan anggaran tanpa disertakan laporan.

Menanggapi itu, Mendikbud menyampaikan bahwa dana abadi belum pernah digunakan untuk keperluan apapun. Dari awalnya, sampai saat ini jumlah dana abadi masih aman dengan total Rp 10,6 triliun. Jumlah tersebut berasal dari tiga tahun penyisihan anggaran fungsi pendidikan. Pada 2010 sebesar Rp 1 triliun, 2011 Rp 2,6 triliun, dan tahun ini ditambah Rp 7 triliun. Jumlahnya akan terus bertambah dan menembus angka Rp 15 triliun karena di 2013 dana abadi akan ditambah sekitar Rp 5 triliun.

"Uangnya ada dan belum dipakai. Kita baru siapkan rencana penggunaannya untuk program di 2013," jelas Nuh.

Perlu diketahui, dana abadi pendidikan hanya dapat digunakan untuk tiga keperluan mendesak. Yakni beasiswa S2 dan S3, rehabilitasi gedung sekolah di wilayah yang terkena bencana alam, dan untuk penelitian berskala nasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau