Bekas Tahanan Guantanamo Pimpin Serangan ke Kedubes AS?

Kompas.com - 22/09/2012, 10:44 WIB

BENGHAZI, KOMPAS.com - Serangan terhadap konsulat AS di Benghazi, Libya, mungkin dipimpin mantan tahanan Teluk Guantanamo yang dikirim kembali ke Libya pada masa Presiden George Bush.

Para pejabat intelijen AS yakin bahwa Sufyan Bin Qumu, salah satu pemimpin kelompok Islam punya kaitan dengan Al Qaeda, yaitu Ansar al Sharia, kemungkinan berada di balik serangan tersebut yang menewaskan Duta Besar AS untuk Libya, Christopher Stevens, dan tiga staf kedutaan lainnya. Bin Qumu, yang tinggal di kota Derna, 240 kilometer di sebelah timur Benghazi, dibebaskan dari Teluk Guantanamo tahun 2007.

Ia sempat dipenjarakan di Tripoli ketika dikembali ke Libya, tetapi kemudian dibebaskan pemerintah Muammar Khadafy. Pria 53 tahun itu telah menolak untuk mengomentari tuduhan yang berulang bahwa anggota Ansar al-Sharia hadir dalam serangan pekan lalu itu, yang menewaskan Stevens.

Otoritas Libya umumnya, termasuk para milisi yang bertugas untuk menjaga keamanan di Benghazi, yakin bahwa serangan itu dilancarkan oleh kelompok tersebut. "Sekarang sangat jelas siapa yang bertanggung jawab terhadap hal itu," kata Mohammed al Gharabi, pemimpin milisi terbesar pro-pemerintah. "Itu adalah orang dari Ansar al Sharia, tidak semua mereka (terlibat) tapi beberapa dari mereka, dan saya pikir (organisasi) tahu siapa yang melakukannya."

Fox News mengklaim telah diberitahu bahwa Bin Qumu mungkin "terlibat dalam serangan itu, dan bahkan mungkin memimpin serangan ke konsulat tersebut".

Bin Qumu yang membentuk Ansar al Sharia, atau " pendukung Sharia", di tengah revolusi Libya tahun lalu. Para pejabat intelijen Amerika yakin ada "komunikasi" antara kelompok itu dan Al Qaeda, kemungkinan besar dengan cabang Afrika Utara dari Al Qaeda, pada hari kejadian itu.

Konsulat AS itu telah diserang sebelumnya dan al Gharabi mengatakan bahwa ia telah memperingatkan para diplomat Amerika tiga hari sebelum serangan bahwa Benghazi "tidak aman".

Bin Qumu punya sejarah dalam jaringan Al Qaeda. Berdasarkan catatan tentang dirinya di Guantanamo, ia terkait dengan penyandang dana serang 11 September 2001, sementara menurut file diplomatik yang diungkapkan tahun lalu mengatakan bahwa ia pernah menjadi sopir truk untuk sebuah perusahaan yang dimiliki Osama bin Laden.

Juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, telah mengatakan bahwa sudah "jelas dengan sendirinya" serangan terhadap konsulat As Benghazi, yang terjadi pada hari peringatan serangan 11 September, merupakan "serangan'' teroris.

Serangan tersebut awalnya diduga merupakan ekses dari protes spontan terhadap film anti-Islam Innocence of Muslims yang berkembang di luar kendali. Namun para pejabat kini yakin bahwa serangan itu disengaja dan dilakukan dengan hati-hati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau