Pemilihan presiden

Golkar Tetap Calonkan Aburizal

Kompas.com - 23/09/2012, 02:42 WIB

Jakarta, Kompas - Mengacu pada hasil Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta, Partai Golkar mengakui, figur yang berintegritas dan memenuhi aspirasi masyarakat menentukan dalam pemilihan umum. Meskipun begitu, Partai Golkar tidak akan mencari calon alternatif untuk Pemilu Presiden 2014.

Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Tohari mengatakan, Partai Golkar tetap akan mengusung Aburizal Bakrie sebagai calon presiden 2014 karena sudah diputuskan dalam rapat pimpinan nasional (rapimnas) pada 1 Juli 2012. Keputusan ini pun tidak akan dievaluasi.

“Lagi pula, keputusan rapimnas baru berjalan tiga bulan, bahkan kurang. Saya rasa ini belum bisa—terlalu singkat untuk berwacana soal evaluasi—tidak relevan, tidak realistis, dan terlalu dini. Kalau sudah setahun, mungkin saja relevan dan masuk akal,” kata Hajriyanto yang saat dihubungi berada di Yogyakarta, Sabtu (22/9).

Hasil Pilkada DKI Jakarta dengan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama mengungguli Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli menunjukkan masyarakat menginginkan perubahan. Sosok Joko Widodo dan Basuki, seperti terungkap dalam berbagai survei, dianggap mewakili semangat perubahan, berintegritas, dan jujur. Keunggulan ini pun sangat bertumpu pada figur keduanya, bukan pada parpol pengusung.

Pilkada DKI Jakarta dan segala fenomenanya, menurut Hajriyanto, akan menjadi pelajaran penting bagi semua parpol. Partai Golkar pun akan mempertimbangkan semua faktor itu.

Oleh karena itu, untuk pemilu legislatif, Partai Golkar tidak akan terlalu mengikuti asumsi bahwa partai akan memperoleh suara signifikan, siapa pun calon legislatifnya. Caleg akan dipilih dengan mempertimbangkan kualifikasi figur. Paling tidak, para anggota Fraksi Partai Golkar di DPR akan kembali dicalonkan. Caleg lainnya dipilih dari kader internal dan kader profesional.

Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso secara terpisah menambahkan, pertimbangan primordialisme, ideologi politik, serta isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) memang kalah pamor ketimbang ketokohan dalam Pilkada DKI Jakarta. Sosok yang menarik perhatian media massa dan masyarakat juga diperlukan.

Meskipun begitu, kata Priyo, untuk pilpres, parpol tidak bisa hanya berkaca pada hasil Pilkada DKI Jakarta. Indonesia sangat luas dan tidak semua penduduk Indonesia mudah terpengaruh perubahan seperti di Jakarta. Hal ini karena tingkat pendidikan masyarakat yang berbeda. (ina)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau