Konsumsi Karet Masih Tumbuh

Kompas.com - 24/09/2012, 06:09 WIB

Jakarta, Kompas - Konsumsi karet dunia dalam sepuluh tahun ke depan masih akan tumbuh sekitar 4,7 persen. Kelebihan penawaran sebesar 0,2 persen harus dikelola dengan baik agar tidak berdampak pada anjloknya harga. Di sisi lain, masalah produktivitas harus diselesaikan.

Darmansyah Basyaruddin dari International Rubber Consortium Ltd, akhir pekan lalu, di Jakarta, mengatakan bahwa International Rubber Study Group telah memproyeksikan pertumbuhan konsumsi karet dunia dalam sepuluh tahun ke depan berkisar 4,7 persen per tahun. Untuk produksi, diperkirakan tumbuh 4,9 persen per tahun. Artinya, ada kelebihan pasokan sehingga perlu diatur agar harga karet tidak anjlok.

Dia mengatakan, tren pertumbuhan konsumsi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan dalam periode 2001-2011, yang mencapai 5,54 persen per tahun. Pertumbuhan konsumsi juga melebihi pertumbuhan produksi, yang tercatat 4,87 persen per tahun. Akibatnya, harga karet naik cukup signifikan.

”Sampai saat ini karet memang belum tergantikan. Memang sudah ada karet sintetis. Namun, untuk membuat ban, tetap saja membutuhkan karet alami. Hampir 70 persen produksi karet alam dipakai untuk membuat ban, sisanya dipakai untuk produk lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, harga karet ke depan, terutama dalam jangka pendek, cenderung relatif melemah. Hal itu merupakan imbas melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

”Karena itu, perlu disikapi secara bijak untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing serta kerja sama dengan sesama produsen karet,” ujarnya.

Produktivitas

Direktur Pusat Penelitian Karet Chairil Anwar mengatakan, produktivitas karet Indonesia hanya 934 kilogram per hektar, sementara Thailand 1.705 kilogram per hektar dan Malaysia 1.450 kilogram per hektar. Untuk meningkatkan produktivitas dalam satu siklus tanaman, sistem eksploitasi yang tepat sangat diperlukan.

”Bukan hanya teknik penyadapan, melainkan juga tata guna panel serta penerapan teknologi pendukung lainnya yang diperlukan,” ujarnya.

Kegiatan eksploitasi tersebut merupakan komponen biaya produksi terbesar, yakni berkisar 33 persen hingga 44 persen, sehingga selalu menjadi perhatian utama, terutama untuk meningkatkan keuntungan.

”Penyadapan yang baik menjamin produktivitas yang tinggi dalam siklus ekonomi panjang sehingga keuntungan kumulatifnya lebih maksimal,” kata Chairil Anwar.

Pangkas ekspor

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Daud Husni Bastari mengatakan, Indonesia, bersama Malaysia dan Thailand, yang tergabung dalam International Tripartite Rubber Council ini akan memangkas ekspor karet 300.000 ton selama enam bulan mulai Oktober 2012.

Indonesia mendapat jatah pengurangan 117.000 ton, Thailand 143.000 ton, dan Malaysia 40.000 ton.

Selama enam bulan pemangkasan ekspor karet, disepakati 60 persen pengurangan ekspor dilakukan pada tiga bulan pertama, dengan perincian tiap bulan 20 persen. Adapun 40 persen sisanya dibagi selama tiga bulan berikutnya, dengan perincian Januari dan Februari sebanyak 15 persen dan Maret 10 persen.

Seperti diberitakan beberapa waktu lalu, harga karet anjlok. Akibatnya, petani di sejumlah tempat menerima harga penjualan karet sangat rendah. Hal ini telah mencemaskan beberapa kalangan karena kemungkinan bisa memunculkan kantong-kantong kemiskinan baru. (ENY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau