Berkunjung ke Padang Golf Pertama di Malaysia

Kompas.com - 24/09/2012, 08:33 WIB

PAHANG, KOMPAS.com - Bukit Fraser di Pahang, Malaysia, mungkin tak terlalu dikenal oleh wisatawan Indonesia. Namun, sejak lama bukit ini menjadi tempat wisata turis mancanegara. Bahkan, Fraser's Hill atau Bukit Fraser sudah menjadi kawasan resor sejak tahun 1920-an.

Hal tersebut diungkapkan General Manager Touris Pahang, Dato' Md. Hanafiah bin Abdul Talib, di sela-sela ajang Malaysia Tourism Hunt 2012, di Fraser's Hill, Pahang, Malaysia, Jumat (21/9/2012) malam. "Inilah bukit pertama di Malaysia yang menjadi destinasi wisata," ungkap Dato' Hanafiah.

Ia menjelaskan Fraser's Hill ibarat "Little England" atau daerah yang bersuasana Inggris di Malaysia. Saat Kompas.com menyambangi Fraser's Hill, bangunan-bangunan seperti menara jam, restoran, sampai kantor pos, bernuansa arsitektur pedesaan Inggris. Sehingga pusat kota Fraser's Hill bagaikan miniatur pedesaan Inggris.

Kawasan bukit ini penuh dengan hutan dan sebuah lapangan golf. Untuk menjaga kelestarian alam, pemerintah setempat sengaja tak membangun SPBU di daerah tersebut. Oleh karena itu, Dato' Hanafiah menyarankan turis yang hendak ke bukit ini untuk mengisi bensin pada mobilnya secara penuh terlebih dahulu.

Jalanan di Fraser's Hill begitu bagus, walau berkelok-kelok. Sementara di area pusat kota, jalanan diberi konblok dan trotoar yang nyaman, sehingga turis bisa santai berjalan kaki mengelilingi Fraser's Hill. Beberapa tur operator termasuk hotel juga menyediakan paket-paket trekking ke dalam hutan.

"Jalanan menuju Fraser's Hill itu adalah jalanan pertama yang dibangun di Malaysia. Tahun 1920 sudah ada jalanan utama. Di tahun 1923 sudah ada 10 bangunan. Padang golf di sini sudah ada dari tahun 1925," jelas Dato' Hanafiah.

Sehingga, lanjutnya, padang golf di Fraser's Hill merupakan padang golf pertama di Malaysia. Dato' Hanafiah mengungkapkan kawasan bukit ini pertama kali ditemukan oleh seorang penambang timah di akhir abad ke-18 bernama Fraser yang berkebangsaan Inggris.

Sejak itu, kawasan tersebut berkembang menjadi tempat beristirahat pegawai-pegawai Inggris. Orang-orang Inggris itu, kisah Dato' Hanafiah, tak mau balik ke negaranya dan memilih tinggal di Fraser's Hill karena merasa cocok.

Daya tarik utama Fraser's Hill memang karena cuacanya yang sejuk dengan rata-rata suhu sekitar 17-24 derajat celsius. Puncak tertinggi di Fraser's Hill adalah 1524 meter. Kawasan Fraser's Hill meliputi hanya 6.930 hektar.

"Pelancong kami kebanyakan dari Jepang, Australia, Eropa, dan Timur Tengah," tutur Dato' Hanafiah.

Data dari pemerintah setempat mencatat jumlah kunjungan wisatawan di Fraser's Hill mencapai 109.000 orang. Sebelumnya di tahun 2008, hanya dikunjungi 46.000 orang.

Di tahun 2009, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke bukit ini sebanyak 5.758 orang. Sebesar 3.399 di antaranya adalah turis dari ASEAN. Dato' Hanafiah mengakui terjadi penurunan kunjungan sejak tahun 2009 karena makin banyaknya destinasi wisata di Malaysia.

Namun, Fraser's Hill tetap menjadi favorit, terutama bagi wisatawan yang telah berumur dan mencari ketenangan khas kawasan puncak. Seperti sepasang suami-istri asal Australia berumur 50-an, yang sempat ditemui Kompas.com, saat mereka sedang asyik berjalan mengelilingi Fraser's Hill. Mereka mengaku sangat menyukai suasana sejuk, hijau, dan ketenangan di Fraser's Hill dan berencana untuk kembali mengunjungi bukit itu. (Ni Luh Made Pertiwi F, dari Pahang, Malaysia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau