Gaya Dinamis Dibutuhkan

Kompas.com - 25/09/2012, 04:35 WIB

Jakarta, Kompas - Kepemimpinan Jokowi-Ahok diperkirakan tetap akan memakai strategi lama dalam menjalankan pemerintahannya. Namun, mereka butuh mengadopsi gaya dinamika Jakarta yang cepat, cerdas, dan praktis agar terjadi percepatan laju pembangunan.

Pengamat perkotaan, Yayat Supriyatna, Senin (24/9), mengatakan, pasangan Joko Widodo atau Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok memiliki modal besar, yaitu dukungan warga.

”Euforia ini harus dimanfaatkan dengan terus merangkul masyarakat. Jangan sampai masyarakat menunggu terlalu lama,” kata Yayat.

Menurut Yayat, awal kepemimpinan Jokowi sebagai Wali Kota Solo, untuk memindahkan pedagang kaki lima (PKL) liar ke tempat resmi yang telah disediakan saja butuh hingga 30 kali pertemuan atau mediasi. Namun, setelah ditemukan akar masalahnya, yaitu kebutuhan warga atau PKL, pelaksanaan program penataan kota berikutnya tidak memerlukan waktu terlalu lama.

”Warga Jakarta yang lebih rasional dan berpendidikan seharusnya bisa lebih mudah diberi pemahaman. Kuncinya cuma satu, pemerintah tetap harus mempertahankan komunikasi dua arah dan mendudukkan diri sama tinggi dengan warga,” kata Yayat.

Gubernur diminta segera membentuk unit reaksi cepat untuk bahaya laten di Jakarta, seperti banjir, kebakaran, dan masalah kesehatan warga.

Arsitek lanskap Nirwono Joga menambahkan, jika rekayasa sosial tersebut bisa dilaksanakan, dalam 3-5 tahun ke depan akan ada jaminan terjadi perubahan secara signifikan di Jakarta.

Guna mendukung percepatan pembangunan untuk perubahan positif Jakarta, lanjut Yayat, Jokowi-Ahok harus bisa mengerahkan anak buahnya yang tak lain pejabat yang telah lebih dulu duduk di pemerintahan DKI.

”Akan ada penyesuaian. Menurut pengamatan saya, mungkin 30 persen pejabat yang terpaksa hengkang karena ketidakcocokan dengan pola kerja Jokowi-Ahok,” kata Yayat.

100 hari

Untuk 100 hari ke depan, Nirwono menambahkan, Jokowi- Ahok diminta jeli memilih program. Selain masalah pendidikan dan kesehatan, Jokowi-Ahok juga sebaiknya fokus dalam agenda penanggulangan kemacetan dan banjir di Jakarta.

Terkait dengan solusi macet, Nirwono mengatakan, ada beberapa hal yang bisa direalisasikan, yaitu memilah dan memilih beberapa megaproyek yang bisa segera dilaksanakan, membangun jalur pejalan kaki yang diutamakan di ruas-ruas di mana ada koridor bus transjakarta, dan membangun jalur sepeda.

”Ada sedikitnya enam megaproyek yang dirancang dan mulai dilakukan semasa Fauzi Bowo memerintah. Jokowi sebaiknya memilih mana yang relevan diteruskan dan mana yang ditunda dulu,” katanya.

Megaproyek yang dimaksud antara lain pembangunan mass rapid transit (MRT), megatanggul/giant sea wall di Teluk Jakarta, jalan-jalan layang, enam ruas jalan tol, dan realisasi zona ekonomi khusus di Jakarta Utara yang mengadopsi ide mantan Gubernur Ali Sadikin.

Sementara itu, kalangan pengusaha ritel dan pusat perbelanjaan bersikap optimistis terhadap perkembangan Jakarta pada masa mendatang jika pimpinan DKI Jakarta akan dipegang Jokowi-Ahok kendati di daerah tempatnya memimpin saat ini, yakni di Solo, Jokowi menerapkan pembatasan yang ketat terhadap pendirian pusat perbelanjaan dan toko ritel.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Stevanus Ridwan mengatakan, pihak pengelola belanja siap mendukung kebijakan gubernur terpilih.

Menurut Stevanus, dari berbagai macam segi, Jakarta sangat berbeda dengan kota lain di Indonesia. Sebagai ibu kota negara, Jakarta jadi barometer Indonesia dan ada masalah kompleks.

”Pengelolaan di Jakarta tidak bisa trial and error. Enggak bisa menerapkan pengelolaan yang sekadar coba-coba. Pengelolaannya harus tepat sehingga tetap bisa mengimbangi persaingan yang ada di tingkat regional,” ujarnya.

Sebagai jalan keluarnya, kata Stevanus, Jokowi-Ahok perlu membuka pintu diskusi bersama dengan setiap pemangku kepentingan di Jakarta. Dengan demikian, pembangunan di Jakarta bisa berjalan sinergi.

”Dengarkan kami dari kalangan pengusaha ini sehingga pembangunan Jakarta tetap bisa berjalan baik,” katanya.

Terkait dengan toko ritel pun, menurut Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia Satria Hamid, juga tak perlu didikotomikan dengan sektor dagang tradisional sebab pengusaha ritel Indonesia pun siap bersinergi dengan usaha tradisional di Jakarta. ”Sekarang, toko-toko ritel juga menyalurkan produk tradisional warga,” kata Satria, yang juga menjabat sebagai Public Affairs Senior Manager PT Carrefour Indonesia.

(NEL/MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau