Sri Utomo, dari Keprihatinan Lahirlah Pawang Geni

Kompas.com - 25/09/2012, 07:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Nama "Pawang Geni" melambung sejak diperkenalkan Joko Widodo, calon gubernur DKI Jakarta, sebagai salah satu solusi penanganan kebakaran di Ibu Kota. Namun, nama Sri Utomo, penemu perangkat pemadam kebakaran sederhana itu relatif belum dikenal publik.

Tomo, panggilan Sri Utomo, baru saja tiba di Jakarta pada Senin (24/9/2012) jelang tengah malam. Sebelum beristirahat, ia dan dua rekan kerjanya, Oei Beng Kie dan Anton Daniel, menyempatkan diri mengisahkan kemunculan Pawang Geni.

"Pawang Geni sebenarnya sudah ada sejak empat tahun lalu. Tepatnya, tipe pertama selesai dirancang pada 1 November 2008," tutur Tomo mengawali kisahnya.

Motivasi awal untuk membuat alat sederhana untuk memadamkan api muncul dari keprihatinan Tomo atas peristiwa kebakaran rumah yang dialami kerabatnya. Peristiwa pertama terjadi di rumah salah seorang temannya. Saat itu, Tomo masih bekerja di Jakarta dan hanya mendengar peristiwa tersebut dari informasi temannya.

"Tapi, pas kebakaran kedua di rumah teman, saya lihat sendiri dan langsung kepikiran untuk bikin alat pemadaman karena kebakaran itu sebenarnya bisa ditanggulangi lebih awal," jelas Tomo.

Dari pengamatan tersebut, tercetus di benak Tomo gambaran terjadinya peristiwa kebakaran. Menurutnya, banyak peristiwa kebakaran besar seharusnya tidak terjadi seandainya bisa ditangani lebih dini. "Biasanya terjadi kebakaran besar karena saat kebakaran kecil di awal ndak bisa ditangani dengan benar," urai Tomo.

Berbekal keterampilan teknik yang diperolehnya dari sekolah teknik, setingkat SMP, dipadu kemampuan grafis yang didapatkan saat mencicipi kuliah jurusan seni rupa, ia pun mulai merancang peralatan. Namun, rencana membuat alat praktis dan mudah digunakan warga untuk menangkal kebakaran di permukiman padat penduduk sempat terkendala oleh keterbatasan dana.

"Kebetulan di Solo ada Dana Pembangunan Kelurahan rata-rata sebesar Rp 150 juta per kelurahan, tergantung luas wilayah dan jumlah penduduk," kata Tomo.

Dana tersebut dialokasikan termasuk untuk kegiatan pemberdayaan warga yang memiliki gagasan dan kreativitas di bidang ekonomi dan teknologi. Tomo pun menggandeng Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta, tempat kelahirannya, untuk mendapatkan bantuan modal.

"Waktu itu, anggaran tahun 2007 sudah dialokasikan. Jadi, kami diminta untuk menunggu tahun anggaran berikut (2008)," ungkap Tomo.

Dengan modal tersebut, ia pun mulai merancang alat yang kemudian dinamakan Pawang Geni. Alat tersebut pada awalnya terdiri dari drum metal (sebagai water reservoir) yang terbuat dari bahan metal dengan kapasitas isi 200 liter. Drum tersebut dilengkapi dengan pompa tekan aksi ganda untuk menyedot air dari drum melalui selang air sepanjang 20 meter dengan kualitas sesuai standar pemadam kebakaran.

Dengan sistem pompa tekan aksi ganda, tidak akan terjadi jeda aliran air ketika sedang disemprotkan untuk memadamkan api. "Kekuatan lontaran air atau semprotan mencapai 20 meter," tambah Oey Beng Kie, rekan Tomo.

Sistem ini masih dirancang dengan troli sebagai landasan yang memungkinkan Pawang Geni dipindah-pindahkan dengan leluasa. Dengan ukuran yang kecil, Pawang Geni bisa masuk hingga ke gang-gang sempit yang berada di permukiman padat penduduk. "Karena itu, alat ini cocok untuk memadamkan kebakaran di Jakarta yang banyak permukiman padat dan rawan kebakaran," sambung Anton, rekan Tomo lainnya.

Setelah selesai, tipe awal Pawang Geni dipresentasikan Tomo bersama Tim LPM Kelurahan Sudiroprajan ke jajaran Pemkot Surakarta dan beberapa lembaga terkait, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran.

Puas dengan produk kreatif tersebut, Pemkot Solo pun menyertakan Pawang Geni sebagai produk daerah dalam ajang Pameran Pembangunan se-Indonesia di Riau. Saat itu, tim sosialisasi telah terbentuk yang dilengkapi brosur penggunaan Pawang Geni. Seluruh biayanya ditanggung Pemkot dan dipertanggungjawabkan ke DPRD setempat.

Meski demikian, gaung Pawang Geni belum meluas. Nama Pawang Geni baru benar-benar mengemuka saat kembali diperkenalkan Jokowi dalam konteks Pilkada DKI Jakarta 2012, empat tahun setelah kemunculannya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau