Sao Paulo: Kota dengan Kemacetan 180 Km

Kompas.com - 25/09/2012, 15:18 WIB

KOMPAS.com — Jika Anda terjebak kemacetan lalu lintas, ingatlah para pengemudi di kota terbesar Brasil, Sao Paulo, yang memiliki masalah kemacetan terburuk di dunia.

Jumat petang adalah mimpi buruk bagi pengguna jalan di Sao Paulo. Itu adalah saat ketika kemacetan dapat mencapai panjang 180 km dan jika benar-benar parah 295 km.

Lampu rem berwarna merah menyala di sepanjang jalan, berkedip berulang-ulang saat pengemudi berusaha bertahan di perjalanan melelahkan yang bisa mencapai berjam-jam.

"Jalan raya bagaikan laut. Lautan mobil," kata Fabiana Crespo yang mengemudi ditemani bayinya Rodrigo, 10 bulan.

"Saya tinggal dengan keluarga saya di selatan Sao Paulo sejak lama dan bekerja di sisi lain kota.

"Jadi ketika saya menikah, saya memutuskan untuk pindah ke utara kota agar lebih dekat dengan kantor. Bepergian pulang-pergi dapat menjadikan hidup Anda seperti neraka," kata dia.

"Namun setelah anak pertama saya lahir, saya memutuskan untuk kembali menjalankan bisnis keluarga di lingkungan lama saya. Jadi saya kembali mengalami cobaan menyeberangi kota ini untuk pergi bekerja."

Bagi Crespo, mengemudi dapat memakan dua jam waktunya sekali jalan.

Investasi transportasi publik

Kemacetan lalu lintas menyebabkan permasalahan di seluruh dunia, dan bukan hanya untuk pengemudi. Di Sao Paulo, macet sudah menjadi lebih dari sebuah gangguan.

Macet parah adalah bagian tak terpisahkan dari hidup dan budaya di kota besar berpenduduk 11 juta jiwa ini.

"Kami telah menjadi budak lalu lintas dan kami harus merencanakan hidup kami dengan lalu lintas sebagai pusatnya," kata Crespo.

Bagi mereka yang memiliki cukup uang, ada pilihan lain yaitu terbang dengan helikopter sewaan.

Pemilik Helimart Air Taxi, Jorge Bittar, mengatakan bahwa perusahaannya menikmati pertumbuhan 10 persen per tahun dan memiliki 16 helikopter yang jarang ada di darat untuk waktu lama.

"Dalam hal lalu lintas; semakin buruk, semakin baik bagi kami."

Profesor Barbieri, pakar teknik dan transportasi dari Universitas Sao Paulo, mengatakan bahwa kota itu memiliki insinyur lalu lintas yang terampil, berpengalaman, dan mampu mencairkan kemacetan di kota itu.

"Akan tetapi, masalah besarnya adalah kami, orang Brasil, buruk dalam perencanaan dan lalu lintas hanya dapat diatasi jika kita mulai melihat solusi jangka panjang."

"Tidak ada kota di dunia yang akan mampu mengakhiri kemacetan karena ketika lalu lintas lancar, orang lebih suka mengemudikan mobil mereka sendiri. Kuncinya adalah menemukan keseimbangan, titik ketika pengguna jalan dapat menggunakan transportasi umum karena lebih cepat dari mengemudi," kata dia.

"Sao Paulo harus secepatnya berinvestasi di transportasi publik daripada membangun jalan raya dan jalan tol yang hanya akan dipenuhi mobil."

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau