Pawang Geni, dari Sudiroprajan Menuju Jakarta

Kompas.com - 26/09/2012, 02:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pawang Geni, alat pemadam kebakaran sederhana, merupakan hasil karya Sri Utomo (57), warga Sudiroprajan, Jebres, Surakarta. Alat tersebut sudah diperkenalkan Wali Kota Solo Joko Widodo kepada warga Ibu Kota dalam kapasitas sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

Kepada Kompas.com di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (25/9/2012) dini hari, Sri Utomo menjelaskan bahwa tipe awal Pawang Geni sudah selesai dibuat pada tahun 1 November 2008 atau hampir empat tahun lalu. "Tahun itu juga kami presentasikan ke hadapan jajaran Pemkot dan mendapat apresiasi," ungkap Tomo, sapaan Sri Utomo.

Namun, entah kenapa nama Pawang Geni belum melekat di benak Jokowi saat ia mempersiapkan program untuk Jakarta. Sebagaimana diceritakan Ibnu Kurniawan, relawan JB yang mendampingi Tomo, dalam sebuah pertemuan di Loji Gandrung yang dipimpin Jokowi, tim JB Solo membahas secara khusus berbagai solusi permasalahan Jakarta.

Saat itu, kebakaran yang marak di Jakarta sedang menjadi sorotan. Perhatian Jokowi sebagai calon gubernur pun terarah pada cara sederhana penanganan kebakaran. "Saya ngomong, mengapa ndak bawa Pawang Geni ke Jakarta aja. Pawang Geni kan cocok di Jakarta," kata Ibnu.

Seakan baru teringat akan produk lokal Solo hasil rancangan Sri Utomo dan dikembangkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LMP) Sudiroprajan itu, Jokowi pun meminta Ibnu untuk segera mendatangkan alat sederhana itu ke Loji Gandrung pada keesokan harinya. "Ya udah, besok bawa aja ke sini," kata Jokowi sebagaimana dituturkan ulang Ibnu.

Saking semangatnya, besoknya Jokowi tidak lagi menunggu kedatangan Pawang Geni di rumah dinas Wali Kota Solo. Ia sendiri datang ke Sudiroprajan. Di sana, ia kembali melihat demo penggunaan alat yang kali ini sudah dikembangkan dengan sistem pompa ganda kembar. Dengan sistem baru ini, pompa air tidak lagi dioperasikan oleh dua orang pada satu sisi, tapi oleh empat orang, dengan dua orang pada kedua sisi.

Alat yang akan diperkenalkan Jokowi ke Jakarta ini lantas diperkenalkan terlebih dahulu pada kalangan media di Solo pada 24 Agustus lalu. Di Jakarta sendiri, alat ini diperkenalkan Jokowi ke publik pada Minggu, 9 September 2012. "Aksesibilitasnya gampang, mudah masuk ke gang-gang kecil, mudah dipindah-pindah, minim perawatan, teknologi sederhana, sistem instalasi rangkaian perangkat pendukungnya dapat dikembangkan sehingga bisa disimpan di beberapa lokasi berbeda di tingkat RT-RW, dan tentu saja harganya murah," kata Ibnu menguraikan kelebihan Pawang Geni.

Harga Pawang Geni memang terhitung murah. Perangkat dengan sistem pompa ganda kembar ini yang merupakan hasil pengembangan terakhir, misalnya, hanya dihargai sekitar Rp 10 Juta. "Masih bisa dikembangkan dengan sistem engine (mesin). Tapi mungkin biayanya jadi meningkat," tambah Tomo.

Sebagaimana diuraikan Ibnu, Tomo menjelaskan bahwa alat ini sudah dimodifikasi untuk bisa disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Untuk menjadi sarana ideal dalam mengatasi kebakaran tahap awal, perangkat utama Pawang Geni bisa dikoneksikan dengan rangkaian sarana pendukung, yakni unit cadangan air (water reserve unit). Seluruh unit penyimpanan air ini menyuplai air ke unit utama dan dialirkan secara langsung saat pompa air dioperasikan.

"Dengan cara ini, drum-drum air cadangan bisa disimpan di lokasi berbeda yang berdekatan. Semuanya dilengkapi roda sehingga mudah dipindah-pindahkan," kata Tomo.

Dengan teknik tersebut, Pawang Geni cukup cocok untuk digunakan sebagai sarana penanganan kebakaran tahap awal di Jakarta. Spesifikasi dan desainnya cocok untuk digunakan di lokasi rawan kebakaran di Ibu Kota yang umum terletak di pemukiman padat penduduk dengan gang-gang sempit yang sulit diakses mobil pemadam kebakaran.

Dengan daya semprot yang mencapai 20 meter, selang dengan panjang 20 meter, troli yang memudahkan pemindahan, dan bentuk yang relatif ramping untuk melewati gang-gang sempit, Pawang Geni bisa  ditempatkan di tiap RT daerah rawan kebakaran.

Ditambahi sistem isi ulang air yang mudah dan memungkinkan untuk disuplai dari air selokan sekalipun, pawang api ini pun semakin cocok untuk menangkal amuk jago merah di pemukiman-pemukiman Ibu Kota.

"Sudah berulang kali kami lakukan simulasi dengan situasi kebakaran yang cukup besar. Hasilnya cukup efisien," kata Oei Beng Kie, rekan Tomo dalam tim Pawang Geni Fire Fighter.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau