Manado, Kompas
Henky menyatakan hal itu di Manado, Sulut, akhir pekan lalu, sebagai bentuk kekecewaan atas pengaturan pertandingan bridge di PON yang dinilai di luar ketentuan baku. Ia menuding peraturan itu dirancang mendadak oleh sejumlah oknum pengurus Pengurus Besar Gabungan Bridge Seluruh Indonesia. ”Peraturan pertandingan mengada-ada dan tiba-tiba, sengaja untuk mengacaukan konsentrasi kami,” katanya.
Kapten tim Sulut, Nurhamiden, juga heran dengan perubahan peraturan yang mendadak itu. ”Saya tidak diberi tahu, tiba-tiba sudah kacau,” katanya.
Ketua KONI Sulut Olly Dondokambey menyebut, perubahan peraturan tersebut rekayasa untuk menjegal dominasi tim bridge Sulut, yang sebelumnya sudah merebut dua emas dari nomor pasangan campuran Bill Mondigir/Elvita Lasut dan nomor pasangan putra Henky Lasut/Eddy Manoppo.
Henky menuturkan, peraturan berubah saat Sulut menghadapi Jawa Barat di semifinal pada gim ketiga. Dua gim pertama yang memainkan 16 babak berjalan normal, dengan Sulut menang gim pertama 19 IMP, lalu disamakan Jabar pada gim kedua dengan 19 IMP.
Memasuki gim ketiga atau penentuan, mendadak panitia menugaskan seorang caddy melakukan bedding tray di meja pertandingan. Bedding tray tak lain wadah tempat penawaran saat memulai pertandingan yang hanya bisa dilakukan pemain.
Kehadiran petugas bedding tray, menurut Henky, adalah bentuk intervensi. ”Kami kaget ketika pada gim ketiga, panitia mengubah peraturan. Kalau panitia curiga, cukup wasit yang mengawasi, bukan petugas yang terlibat,” katanya. Karena kecewa, Sulut melepas partai semifinal dengan kemenangan tim Jabar. Ketika perebutan medali perunggu, tim Sulut memberi kemenangan WO kepada Jateng.
Henky berharap Ketua Umum PB Gabsi Dahlan Iskan membenahi kepengurusan bridge. Indonesia menargetkan juara dunia bridge tahun depan. Pada 1998, tim Indonesia diperkuat Henky Lasut/Eddy Manoppo menjadi runner-up kejuaraan dunia di Rhodes, Yunani.