damaskus, rabu
Menteri Informasi Omran Zoubi mengatakan, ledakan itu dipicu dua bom rakitan. Kemungkinan salah satu bom diletakkan di lantai dasar markas militer itu. Tak ada laporan jatuhnya korban dalam insiden, yang terjadi pada saat pihak oposisi tengah berusaha menumbangkan rezim Presiden Bashar al-Assad.
Saksi mata menuturkan, dua ledakan besar itu lalu diikuti tembakan senjata berat, yang diduga berasal dari bentrokan bersenjata antara militer dan pasukan oposisi di sekitar lokasi ledakan.
Kantor berita pemerintah, SANA, mengatakan, ledakan terjadi sesaat sebelum pukul 07.00 di dekat Alun-alun Omayyad. Bunyi ledakan terdengar beberapa kilometer jauhnya, serta merusak semua jendela Hotel Dama Rose dan bangunan lain di sekitarnya.
Asap hitam pekat membubung tinggi ke langit Damaskus selama beberapa jam setelah ledakan, sementara mobil-mobil ambulans dikerahkan ke lokasi ledakan saat polisi menutup wilayah itu. Warga yang panik berlarian menjauhi lokasi ledakan.
”Ledakan bom itu mengguncang semua apartemen, dan jendela hancur,” kata seorang warga yang tak mau disebut namanya di dekat Distrik Abu Rummaneh. ”Rasanya seperti diguncang gempa,” ujar saksi itu.
Tentara Pembebasan Suriah (FSA) mengklaim bertanggung jawab atas dua ledakan itu. Meski belum ada laporan resmi soal korban jiwa, FSA menyebutkan, ”ada puluhan orang tewas dan terluka” dalam insiden serangan tersebut. Zoubi malah mengatakan, ledakan itu hanya menyebabkan kerusakan materi.
Sementara itu, Maya Nasser, koresponden Press TV Iran yang sedang menyampaikan laporan pandangan mata dari lokasi ledakan itu, ditembak mati oleh penembak jitu. Hussein Hortada, kepala biro Damaskus untuk dua jaringan televisi Iran, yakni Press TV dan Al-Alam, terkena tembakan di punggung, tetapi selamat.
Nasser dan Hortada menjadi target ketika tiba di lokasi dua ledakan itu. Press TV merilis berita dalam bahasa Inggris, sedangkan Al-Alam dalam bahasa Arab. Kedua stasiun TV itu dibiayai Pemerintah Iran.
Iran merupakan sekutu utama rezim Assad dalam memerangi oposisi selama 18 bulan sejak Maret 2011.
Di pihak lain, Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) melaporkan, pasukan milisi propemerintah Suriah telah membantai 16 warga sipil di rumah mereka, Rabu subuh. Di antara korban ada enam perempuan dan tiga anak.
”Milisi mendatangi rumah mereka di kawasan Barzeh sekitar pukul 05.00 waktu setempat dan menembak mati semua penghuninya,” kata Kepala SOHR Rami Abdel Rahman.
FSA mengklaim telah menguasai sebagian Suriah. Damaskus menjadi target utama serangan FSA setelah markas utama pasukan oposisi itu pindah dari Turki ke Suriah.