Wisata erupsi merapi

Berkah Kiwil di Lereng Merapi

Kompas.com - 27/09/2012, 05:05 WIB

Dua tahun lalu, para pemuda di lereng Gunung Merapi setiap hari tak pernah lepas dari sabit. Namun, sekarang mereka bisa sedikit berbangga hati karena telah memegang setir bundar mobil ”kiwil” atau Kijang Willys.

Selang dua bulan pascaerupsi Merapi, Oktober 2010, para pemuda di Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DI Yogyakarta, terinspirasi untuk membeli mobil jip. Inspirasi ini muncul ketika ribuan orang tiba-tiba berdatangan karena penasaran melihat dampak erupsi Merapi.

”Dua bulan setelah letusan Merapi, banyak orang yang ingin melihat kondisi di atas. Waktu itu baru ada dua jip milik warga kampung yang bisa mengantar mereka ke atas,” ucap Heru (34), warga Dusun Kaliurang Timur, Rabu (26/9).

Melihat antusiasme pengunjung, para pemuda di dusun tersebut kemudian memberanikan diri meminjam uang ke bank. Dengan modal pas-pasan sekitar Rp 28 juta, Heru membeli dua jip Willys tua buatan tahun 1968 dan 1970.

Agar biaya operasional tak membengkak, Heru mengubah mesin mobilnya dengan mesin Toyota Kijang. Dari sinilah kemudian banyak orang menyebut kendaraan mereka ”kiwil” atau Kijang Willys.

Lambat laun, pemuda-pemuda lain ikut membeli mobil. Sekarang, jumlah anggota komunitas jip di obyek wisata Telaga Putri Kaliurang telah mencapai 40 orang dengan jumlah jip 40 unit.

Setahun setelah erupsi, Heru melunasi pinjaman di bank dari hasil sewa jip. Pada hari libur atau akhir pekan, ia bisa mengantar tamu tujuh hingga delapan kali sehari dengan tarif sekali antar Rp 250.000.

Naik kasta

Hal serupa dilakukan warga Kampung Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, yang dahulu merupakan kediaman almarhum juru kunci Merapi, Mbah Maridjan. Saat ini, muncul tiga komunitas jip di kampung ini, yaitu Merapi Jeep Community 86, Grinata Adventure, dan Merapi Land Cruiser Community.

”Dulu kami memegang sabit, tetapi sekarang sedikit mentereng karena kami memegang setir,” kata Wajiyanto (30), anggota komunitas Merapi Jeep Community 86, sembari tertawa.

Menurut Wajiyanto, sebelum erupsi sebagian besar warga di lereng Merapi bekerja sebagai peternak dan petambang pasir. Namun, setelah letusan Merapi warga beralih profesi sebagai penyedia jasa wisata, salah satunya penyewaan jip.

Pada erupsi 2010, sebagian besar rumah warga Kinahrejo hancur diterjang awan panas Merapi. Meski demikian, bencana tersebut kini telah diganti dengan berkah baru, salah satunya dengan pendapatan baru dari penyewaan jip wisata Merapi atau biasa mereka sebut lava tour Merapi.

Slamet Ndomo (27), anggota Grinata Adventure, mengungkapkan, setelah erupsi awalnya ia hanya menjadi tukang ojek bagi para wisatawan di Kinahrejo. Kemudian, setelah menabung sedikit demi sedikit, ia kemudian membeli jip.

”Di sini ada aturan tidak tertulis, warga tidak diperkenankan memiliki usaha dobel. Kalau ngojek, ya, ngojek, kalau sewa trail, ya, sewa trail, dan kalau sewa jip, ya, sewa jip. Ini semua dilakukan demi pemerataan usaha semua warga dan tidak ada warga yang mendominasi,” paparnya.

Rute ”lava tour”

Meski terdapat bermacam-macam kelompok jip, semua komunitas menyediakan paket wisata yang sama dengan tarif seragam Rp 250.000 sekali jalan.

Rute lava tour yang biasa dilewati ”kiwil” adalah Kali Opak, kemudian Tugu Ambruk di Dusun Petung, batu ”alien” (bentuknya mirip kepala alien) di Dusun Jambu, Dusun Kaliadem, yang habis diterjang awan panas, Museum Petung tempat menyimpan barang-barang sisa erupsi, rumah Mbah Maridjan di Kinahrejo, hingga Gumuk Petung, sebuah bukit kecil yang sangat strategis untuk menyaksikan Merapi secara utuh.

Bagi para wisatawan, petualangan mengendarai ”kiwil” sangat mengesankan. Mereka bisa menyaksikan secara langsung sisa-sisa erupsi Merapi. Sambil mengendarai jip, mereka mendengarkan penjelasan dari para sopir yang sekaligus juga menjadi pemandu wisata.

Bencana erupsi Merapi ternyata tak mematahkan semangat warga lereng Merapi. Sapi-sapi mereka memang telah mati tersapu awan panas, tetapi mereka tetap bertahan dengan mata pencarian baru, salah satunya membuka jasa wisata lava tour dengan ”kiwil”. (ABK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau