JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra harus segera menyelesaikan konflik terkait Pilkada DKI Jakarta. Jika tidak, beban untuk pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama pascapelantikan sebagai kepala daerah akan semakin berat. Pasangan Jokowi-Basuki yang diusung kedua partai tersebut memenangi Pilkada DKI Jakarta putaran kedua.
"Kalau PDI-P dan Gerindra pecah, maka tentu Jokowi-Basuki akan mengawali pembenahan Jakarta yang jauh lebih rumit," kata Gun Gun Heryanto, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif, di Jakarta, Kamis ( 27/9/2012 ).
Seperti diberitakan, kalangan elit PDI-P menilai Partai Gerindra dan Prabowo Subianto hanya memanfaatkan Pilkada DKI Jakarta untuk meningkatkan elektabilitas. Elit PDI-P tak terima Pilkada DKI Jakarta tak berdampak positif bagi elektabilitas PDI-P meskipun seluruh mesin partai telah bekerja.
Gun Gun mengatakan, Jokowi-Basuki akan semakin rumit berhadapan dengan kekuatan politik di DPRD DKI Jakarta jika kedua parpol itu pecah. Jika solid pun, PDI-P dan Partai Gerindra hanya mempunyai kursi sekitar 15 persen di DPRD.
Menurut Gun Gun, besarnya harapan warga Jakarta terhadap Jokowi-Basuki untuk memperbaiki kondisi Ibu Kota harus tetap dijaga. Jika kedua parpol pengusung pecah, maka dapat membuat publik pesimis. Padahal, Jokowi mempunyai agenda yang luar biasa.
"Yang terberat bagi Jokowi-Basuki adalah mengelola harapan warga. Jika harapan perubahan hanya berumur pendek dan muncul kekecewaan terlalu cepat, maka akan menjadi beban psikologis bagi keduanya. Oleh karena itu, PDI-P dan Gerindra jangan menambah beban Jokowi-Basuki," ujar Gun Gun.
Berita terkait dinamika kedua partai ini dapat diikuti dalam topik "Ada Apa dengan PDI-P dan Gerindra?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang