Infrastruktur

Proyek BUMN Harus Diawasi Bersama

Kompas.com - 29/09/2012, 05:17 WIB

Jakarta, Kompas - Langkah badan usaha milik negara menjadi lokomotif pembangunan infrastruktur sangat diapresiasi. Namun, pembangunan infrastruktur tersebut sebaiknya diawasi bersama-sama supaya tidak merugikan masyarakat.

”Apabila biaya proyek digelembungkan, ketika infrastruktur terbangun, nanti masyarakat pengguna infrastruktur yang menanggungnya dalam bentuk tarif mahal,” kata ahli transportasi dari Universitas Trisakti, Jakarta, Fransiskus Trisbiantara, Jumat (28/9), di Jakarta.

Trisbiantara menambahkan, penggembungan biaya proyek itu tidak sekadar merugikan negara, tetapi juga warga pengguna. Kerugiannya juga akan dialami dalam jangka panjang.

Kini proyek-proyek infrastruktur skala besar di Indonesia memang dikerjakan badan usaha milik negara (BUMN). Sebagai contoh, Terminal Kalibaru di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dibangun PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dengan dana sekitar Rp 22 triliun. Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa, Bali, dibangun PT Jasa Marga (Persero) dan tiga BUMN lain. Kementerian BUMN juga telah meminta PT Hutama Karya segera membangun jalan tol di Sumatera. Hal ini sejalan dengan rekomendasi The Korea Transport Institute yang mengusulkan pemerintah membangun jalan tol tersebut lalu menjualnya ke swasta.

”Cara paling sederhana adalah membandingkan biaya konstruksi di Indonesia dengan biaya konstruksi di region ini. Misalnya, kita bandingkan dengan biaya konstruksi di Malaysia dan Singapura,” ujar Trisbiantara.

Ketika peran BUMN didorong, kata Trisbiantara, sebaiknya pemerintah segera membenahi diri. ”Dalam sektor jalan tol, tolong regulasi pembebasan lahan benar-benar dibenahi sehingga swasta juga tertarik membangun,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur Public Private Partnership Indonesia Windhu Hidranto Sudjono mengatakan, dalam kondisi darurat infrastruktur seperti sekarang, sudah tepat menyerahkan pembangunan infrastruktur kepada BUMN. ”Menugaskan BUMN karya untuk membangun infrastruktur kemudian meminta swasta mengoperasikan dan maintenance (memelihara) merupakan langkah maju. Jadi, kerja sama dengan swasta dikerjakan di tahap akhir proyek,” kata Windhu.

Akan tetapi, Windhu tetap mengharapkan peran swasta pada saatnya dapat ditingkatkan dalam pembangunan infrastruktur. Hal itu karena kebutuhan infrastruktur yang begitu tinggi tidak akan mampu hanya dipenuhi oleh BUMN. ”Harus diakui, prediksi permintaan kita terhadap infrastruktur meleset. Pelabuhan dan bandara, misalnya, kini penuh sesak,” kata Trisbiantara.

(RYO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau