Bumi Plc Ingin Dapatkan Saham Murah BUMI?

Kompas.com - 29/09/2012, 07:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Pengamat Ekonomi dari Universitas Pancasila Jakarta, Agus S Irfani menduga ada permainan dari Bumi Plc, perusahaan investasi asal London, untuk mendapatkan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan harga rendah.

"Logikanya begini, kalau pemilik perusahaan melihat adanya penyelewengan, umumnya dilakukan peneguran secara tertutup karena memang selayaknya pemilik menjaga citra perusahaannya," ujarnya di Jakarta, Jumat (28/9/2012).

Dalam persoalan Bumi Plc yang berniat mengaudit kinerja operasi dan keuangan BUMI karena menemukan keganjilan keuangan, Agus Irfani menuturkan, mengapa hal itu justru di-blow up ke publik melalui media massa.

"Saya mencurigai ada permainan Bumi Plc sendiri untuk menurunkan harga saham BUMI lalu membelinya dari bawah," katanya.

Langkah Bumi Plc memberi pernyataan kepada publik untuk melangsungkan audit investigasi karena mendapat surat kaleng yang menyebutkan adanya kejanggalan atas kinerja perusahaan batubaranya di Indonesia itu telah membuat saham Bumi Plc dan BUMI langsung melorot pada awal pekan.

"Jadi kelihatannya isu ini dihembuskan untuk mendapatkan harga murah. Itu terlihat dari pemberitaan terkini dari Bumi Plc yang berencana menjual kepemilikannya di BUMI," kata Agus.
     
Sementara itu analis PT Lautandhana Securindo, Willy Sanjaya mengatakan, sebagai perusahaan global dan tercatat di Bursa London, Bumi Plc seharusnya tidak mengambil langkah terburu-buru, apalagi sumbernya juga tidak relevan.

"Ini dari surat kaleng yang dikirim Jakarta. Ini ada apa? Menurunkan harga BUMI dengan maksud apa," katanya.

Pengumuman audit BUMI oleh Bumi Plc ini, lanjut Wily, menjadi sulit dicerna mengingat awalnya Rothschild melalui Vallar Plc yang menginginkan masuk sebagai pemegang saham.

"Rothschild pasti telah melalui proses uji tuntas (due dilligence), dan jika menemukan kejanggalan tidak mungkin perusahaan tetap bernafsu membeli saham BUMI di 2010. Waktu ambil alih BUMI tentu sudah melewati due dilligence. Masa tidak mengetahui ada aspek penyimpangan," tambahnya.

Wily meminta investor tidak terpancing dan ikut menurunkan harga saham BUMI. Tentu ada skenario besar dalam aksi Bumi Plc kali ini. "Selama BUMI masih beroperasi, KPC tetap berproduksi tentu tidak masalah. Investor harus jeli," tegasnya.

Selama periode 19-24 September 2012, harga saham Bumi Plc anjlok tajam 30,53 persen dari 282 pence menjadi 195,9 pence. Penurunan tajam ini jauh lebih besar dari penurunan harga-harga saham serupa di bursa London.

Saham Xstrata, Rio Tinto, Anglo American dan Glencore, masing-masing hanya turun 5,37 persen, 3,82 persen, 4,72 persen dan 3,02 persen pada periode yang sama.

Pada penutupan perdagangan Kamis (27/9), saham BUMI sudah membaik dan ditutup pada level Rp 730, naik 60 poin (8,96 persen) dari periode sebelumnya. Saham perseroan sempat berada pada level tertinggi Rp 770 dan terendah Rp 660.

Artikel lain mengenai hal ini silakan klik Kisruh BUMI

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau