Bencana alam

Banjir Landa Spanyol, 10 Orang Tewas

Kompas.com - 01/10/2012, 02:14 WIB
Ratusan orang tewas

BARCELONA, SABTU - Badai topan menyapu pasar malam di kota Gandia, Spanyol, merobohkan kincir ria dan mencederai 35 orang. Sementara korban tewas akibat banjir bandang di kawasan Spanyol selatan naik menjadi 10 orang. Demikian menurut pihak berwenang, Sabtu (29/9).

Topan hari Jumat itu merusak beberapa wahana rekreasi dan memutus aliran listrik di pasar malam sementara yang dibangun di alun-alun kota Gandia. Sebanyak 15 orang cedera parah.

Media setempat melaporkan, pasar malam di Provinsi Valencia itu ditutup untuk umum pada saat hujan badai dan semua korban adalah karyawan pasar malam itu.

Tidak jauh dari kota itu, lima korban tewas akibat banjir bandang di sebelah barat daya Gandia ditemukan Jumat malam.

Juru bicara pemerintah daerah Andalucia mengatakan, Sabtu, hujan lebat dan banjir bandang yang menyusul juga telah menewaskan lima orang di Provinsi Murcia.

Jubir itu mengatakan, seorang perempuan Inggris berusia 52 tahun dan seorang pria tunawisma hilang di kota Almeria, Murcia. Banjir itu juga mengganggu layanan kereta api kecepatan tinggi antara Madrid dan Valencia, dan sejumlah jalur kereta api regional.

Hujan lebat yang dimulai Jumat pagi itu berlanjut sampai Sabtu, dengan badai bergerak ke utara ke arah Catalonia dan Kepulauan Balearic.

Dari Pakistan dilaporkan, hujan monsun dan banjir telah menewaskan lebih dari 400 orang selama musim hujan tahun ini.

Pakistan setiap tahun dilanda banjir yang disebabkan hujan monsun lebat yang menyapu negara itu mulai awal September dan menyebabkan sungai-sungai meluap.

Otoritas Penanganan Bencana Nasional Pakistan mengatakan, Jumat pekan lalu, 422 orang tewas dan hampir 3.000 orang cedera selama musim hujan tahun ini. Sekitar lima juta orang juga terkena dampak banjir tersebut.

Provinsi Sindh di Pakistan tenggara merupakan yang paling parah terkena dampak, dengan 239 korban tewas.

Seorang pejabat otoritas penanganan bencana itu, Mayor Iftikhar Ahmed, mengatakan, curah hujan tahun ini lebih kecil dibandingkan tahun 2010 ketika bencana banjir menyebabkan seperlima negara itu terendam dan 1.985 orang tewas. Tahun lalu, 443 orang tewas karena banjir.

Pakistan pada tahun-tahun terakhir berjuang untuk menangani kekacauan yang disebabkan hujan dan banjir di seluruh negeri. Seorang jubir otoritas bencana itu, Ahmad Kamal, mengatakan, pemerintah belum meminta bantuan asing. ”Sudut pandang pemerintah adalah bahwa situasi ini ditangani dengan sumber daya sendiri,” katanya.

UNICEF mengimbau donatur internasional menyediakan 15,4 juta dollar AS untuk membantu para korban selama tiga sampai enam bulan mendatang. Dalam pernyataan resmi, Jumat, badan PBB yang menangani anak-anak itu mengatakan telah membantu pasokan air minum kepada korban banjir di Provinsi Baluchistan, Punjab, dan Sindh.

UNICEF menyatakan kekhawatirannya mengenai anak-anak yang harus mengungsi tanpa akses air minum dan rentan penyakit, seperti diare, malaria, dan pneumonia. (AP/AFP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau