Ada yang Kaget, Ada yang Pasrah

Kompas.com - 01/10/2012, 10:22 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com — PT KAI Commuter Jabodetabek mulai menerapkan tarif baru per tanggal 1 Oktober 2012. Tiap penumpang commuter line harus menyediakan anggaran lebih lantaran tarif anyar naik Rp 2.000 per rute dari tarif sebelumnya. Dalam pantauan Kompas.com di Stasiun Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (1/10/2012) pagi, ternyata masih ada penumpang yang belum mengetahui pemberlakuan tarif baru itu.

Diah, misalnya, langsung terkejut saat diminta menambahkan sejumlah uang yang telah disetornya di loket karcis. Ia terlihat bertanya kepada petugas loket. Tanpa basa-basi, petugas di balik loket langsung menunjukkan brosur tarif baru kepada calon penumpang tujuan Stasiun Gondangdia itu. Diah pun terpaksa mengambil kembali uangnya dan merogoh dompet untuk mengeluarkan uang kertas Rp 50.000.

"Tadi udah nyiapin uang pas dari rumah. Enggak tahu kalau tarifnya udah naik," ujar pegawai swasta di kawasan Gambir itu. Warga apartemen Kalibata City itu mengaku belum mendapat informasi soal kenaikan tarif sebelumnya.

Hal yang sama juga terjadi dengan Toni. Calon penumpang kereta jurusan Tanah Abang itu terlihat bingung saat uang pecahan Rp 10.000 yang diberikan melewati loket hanya mendapat uang kembali Rp 2.000. Petugas pria di balik loket pun segera menjelaskan adanya penerapan tarif baru sebagaimana tertempel di salah satu kaca loket.

"Biasanya beli tiket buru-buru, jadi enggak sempat kebaca," kata Toni.

Hal berbeda terjadi pada Syarif, pegawai swasta di kawasan Sudirman. Ia tak lagi terlihat kaget saat lembaran Rp 50.000 untuk empat karcis yang diberikannya dikembalikan dalam jumlah yang tidak seperti biasanya. "Baru tahu tadi pagi. Kebetulan baca di internet sebelum ke sini," kata Syarif.

Ditanya pendapatnya tentang kenaikan tarif, Syarif mengaku pasrah meskipun layanan yang diterima belum mengalami perubahan. "Sekarang malah makin penuh. Mau namanya commuter line pun di dalam kita tetap desak-desakan. Tapi, ya mau gimana lagi. Saya sih terima aja," ujar Syarif pasrah.

Ia mengatakan, walau bagaimanapun, KRL masih menjadi sarana transportasi massal yang paling diandalkan di Jabodetabek. Karena itu, walaupun kondisi layanannya belum sepadan dengan tarif baru yang diterapkan, ia tidak akan berganti ke moda angkutan lain. "Masih satu-satunya yang jadi andalan. Kita terima ajalah," tutur Syarif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau