Kerusuhan banglades

Pengungsi Rohingya Dituduh Terlibat

Kompas.com - 02/10/2012, 02:26 WIB

Dhaka, Senin - Aparat keamanan Banglades, Senin (1/10), menuduh para pengungsi etnis Rohingya asal Myanmar terlibat dalam aksi penyerangan dan perusakan kuil Buddha dan perumahan di kawasan tenggara negeri itu.

Insiden terjadi Sabtu pekan lalu ketika ribuan warga marah akibat sebuah foto yang dianggap menghina Islam diunggah di salah satu akun Facebook.

Mereka lalu menyerbu dan menyerang sebuah kawasan permukiman warga minoritas Buddha, yang terletak di sekitar perbatasan Myanmar.

Sedikitnya 50 rumah serta puluhan kuil dan biara dibakar dan dijarah. Para pelaku juga menjarah patung-patung Buddha yang ada.

”Serangan dilakukan terhadap kawasan Ramu dan sekitar Distrik Cox’s Bazar itu dilakukan para anggota kelompok radikal. Warga Rohingya dan lawan politik pemerintah terlibat dalam peristiwa serangan itu,” ujar Menteri Dalam Negeri Mohiuddin Khan Alamgir.

Alamgir juga menyebut serangan itu dilakukan secara terencana dan bertujuan merusak keharmonisan yang ada selama ini di Banglades.

Kejadian ini menjadi konflik sektarian terburuk yang pernah terjadi di Banglades. Serangan itu juga memicu kekhawatiran warga minoritas di sana.

Mengusir perusuh

Menurut aparat kepolisian Banglades, kerusuhan pertama kali pecah dan menyebar di Pelabuhan Chittagong. Dua kuil dirusak.

Polisi ketika itu berhasil mengusir para perusuh dan mengamankan lokasi. Mereka juga menahan sedikitnya 170 perusuh.

Masih dari keterangan polisi, kemarahan dipicu sebuah foto bergambar kitab suci yang dibakar. Foto itu dicurigai diunggah seorang pemuda dari kelompok minoritas, yang belakangan ditangkap dan diamankan aparat. Akun Facebook bermasalah itu juga belakangan dihapus.

Salah seorang pemimpin warga Buddhis menyebut sejumlah aktivis, yang tidak teridentifikasi, telah sengaja memicu masalah. Warga pemeluk Buddha di Banglades jumlahnya hanya 1 persen dari 150 juta populasi negeri tersebut.

”Sejak Minggu, situasi sudah bisa dikendalikan. Namun, kami tetap menambah kekuatan pasukan ke sejumlah lokasi yang rawan untuk memastikan situasi damai tetap terjadi,” ujar Serajul Haque Khan, kepala pemerintahan di Chittagong.

Seperti diwartakan, gelombang pengungsi warga Rohingya kembali menyerbu Banglades pasca-kerusuhan bernuansa sektarian, yang terjadi Juni lalu di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Pemerintah Banglades selama ini menerapkan kebijakan keras, mengusir kembali para pengungsi Rohingya tersebut lantaran tidak mau terbebani.

Tidak hanya itu, Pemerintah Banglades bahkan melarang sejumlah organisasi kemanusiaan internasional beroperasi di lokasi penampungan pengungsi di Cox’s Bazar lantaran dianggap menjelek-jelekkan pemerintah.

Selain akibat sentimen sektarian, warga Rohingya juga terusir terutama karena kebijakan diskriminatif Pemerintah Myanmar, yang tidak mengakui keberadaan mereka sebagai warga negara.

(REUTERS/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau