BUCHAREST, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, teori ekonomi dunia akan berubah setelah ada krisis. Hal ini berbeda dengan teori ilmu terapan seperti teknologi informasi dan kedokteran yang setiap saat berubah jika ada penemuan baru. Krisis ekonomi global saat ini merupakan saat yang tepat untuk memodifikasi teori ekonomi yang ada.
Para pakar teknologi menggunakan laboratorium untuk menguji teorinya, krisis ekonomi harus dijadikan laboratorium bagi para ekonom dunia. Hal ini disampaikan Jusuf Kalla saat menjadi pembicara kunci pada malam ramah tamah peserta pertemuan Club of Rome yang diadakan di Ballromm Le Diplomate Hilton Hotel Bucharest, Romania, Senin (1/10/2012) waktu setempat atau Selasa (2/10/2012) dini hari.
Menurut Jusuf Kalla, ilmu selalu dinamis khususnya teknologi. Dalam ilmu sosial seperti ekonomi selalu terjadi perputaran atau semacam circle. Adapun dalam ilmu teknologi pergerakannya adalah ke arah yang lebih cepat, lebih baik, efisien, dan murah. Ekonomi hanya berputar antara tesis dan antitesis. "Berbeda dengan teknologi yang berkembang saat ekonomi booming, ilmu ekonomi justru berkembang saat krisis terjadi. Para ekonom mencoba menemukan konsep baru untuk merespons krisis. Sama dengan munculnya teori oleh Keynes, Friedman, dan Krugman. Krisis ekonomi global saat ini merupakan saat yang tepat untuk memodifikasi teori ekonomi yang ada," tambah Jusuf Kalla.
Lebih lanjut Jusuf Kalla menjelaskan bahwa yang paling cepat berubah adalah ilmu TI. Ilmu TI berkembang setiap 18 bulan sebanyak 100 persen, artinya setiap 18 bulan kekuatan komputer akan berkembang 2 kali lipat, Telepon seluler juga berkembang 2 kali lipat kemampuannya, sementara harganya turun setengahnya setiap 18 bulan. "Handphone (HP) pertama yang saya kenal tahun 1992 bentuknya besar dan kapasitasnya sedikit, sementara sekarang HP sudah kecil, tapi kapasitasnya besar dan multifungsi, di satu sisi harganya lebih murah," kata Jusuf Kalla yang kemudian disambut tawa hadirin.
Dalam pidatonya, Jusuf Kalla menguraikan berbagai tantangan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. "Pemerintah di berbagai negara perlu lebih tegas mengatur perekonomian. Ekonomi pasar sebenarnya bagus, tetapi tanpa manajemen oleh pemerintah berbagai dampak negatif akan terjadi. Ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan merupakan salah satu contohnya" ungkap Jusuf Kalla. Dalam acara jamuan santap malam yang diselenggarakan tokoh-tokoh Club Of Rome ini, Jusuf Kalla "dinobatkan" menjadi bintang dari Asia oleh Presiden Club of Rome Ebenhard Von Koerber.
Hadir dalam acara ini pendiri dan beberapa tokoh the Club of Rome, di antaranya mantan Perdana Menteri Romania yang kini menjabat Gubernur Bank Sentral Romania Mugur Isarescu serta seluruh peserta konferensi, termasuk penulis dua buku berpengaruh, Dennis Meadows penulis "The Limit to Growth", Anders Wijkman penulis buku "Bankrupting Nature" dan Jorgen Randers, penulis "2052: A Global Forecast for the Nest 40 years".
Sementara delegasi dari Indonesia yang hadir di antaranya Emil Salim, anggota Komisi VIII Fraksi Partai Golkar DPRI Iskandar Manji, Egy Massadiah, dan Laura Munaba.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang