Nona Tewas, Terakhir Terlihat Senin Siang

Kompas.com - 02/10/2012, 18:29 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang pembantu rumah tangga (PRT) bernama Acun alias Nona (46) ditemukan tewas bersimbah darah, Selasa siang. Warga sekitar mengaku terakhir melihat Acun yang diduga menjadi korban pembunuhan itu satu hari sebelumnya, yaitu Senin siang.

"Saya terakhir ngeliat dia kemarin siang jam 12.00 WIB. Dia nutup tokonya. Nggak bilang apa-apa," ujar Meylis (56), seorang tetangga, kepada Kompas.com, di lokasi kejadian, Jalan Otista Raya Nomor 59, Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (2/10/2012) sore.

Meylis menuturkan, setelah pertemuan terakhirnya dengan Nona, ia tak bertemu hingga Selasa siang. Saat itu, Deni, salah seorang karyawan lainnya, hendak mengantar nasi ke kedai tersebut. Namun, ia tak menemukan Nona.

"Dia nelpon majikannya, terus majikannya nelepon saya suruh ngecek toko. Tapi karena saya lagi sibuk, jadinya si Deni sendiri yang ngeliat lewat loteng pakai tangga," ucapnya.

Benar saja, ketika Deni naik ke atas loteng dan mengintip dari sela-sela genteng, ia melihat Nona sudah dalam kondisi tewas. Jasadnya berlumur darah tergeletak menyamping dan tertutup kardus di dalam gudang berukuran 8 x 8 meter persegi tersebut. Tak hanya itu, pintu masuk gudang ditutup oleh krat minuman botol.

Citrawati, pemilik kedai kopi, membenarkan Nona salah satu pegawainya. Toko tersebut biasa buka dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Sehabis menutup kedai, Nona biasa langsung pulang ke rumahnya di bilangan RT 3 RW 10, Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur.

"Dia nggak bilang apa-apa sama saya makanya saya suruh pembantu saya yang satu lagi cek ke toko. Ternyata sudah meninggal," ujarnya.

Berdasarkan pantauan, korban mengenakan baju putih dan celana hitam. Korban tergeletak tidur menyamping ke kanan dengan darah di sekeliling jasadnya.

Jasad korban terlihat ditutupi kardus mi instan. Warga sekitar tampak berkerumun di sekitar lokasi kejadian melihat aktivitas polisi.

Pukul 16.30 WIB, jasad wanita malang tersebut langsung dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, untuk diotopsi. Empat saksi masih diperiksa intensif di Kepolisian Sektor Jatinegara.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau