Jakarta 1

Jokowi Tak Suka Pidato, DKI Bisa Hemat Rp 1,2 Miliar

Kompas.com - 05/10/2012, 09:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah DKI Jakarta (APBD DKI Jakarta) terjadi pada sektor belanja pegawai, terutama untuk biaya penulisan naskah pidato gubernur yang nilainya mencapai Rp 1,25 miliar. Pos anggaran untuk pembuatan naskah pidato ini dinilai sia-sia karena seharusnya bisa dialokasikan untuk pembiayaan yang lainnya. Demikian diungkapkan Koordinator Advokasi dan Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Koordinator Advokasi dan Investigasi FITRA) Ucok Sky Khadafi, Kamis (4/10/2012), saat dihubungi wartawan.

"Pada tahun 2011, anggaran untuk pembuatan naskah mencapai Rp 1,25 miliar. Untuk tahun ini juga masih sama sekitar itu. Jelas, ini pemborosan karena untuk apa lagi menyewa orang lain membuat naskah," kata Ucok.

Ucok menilai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI Jakarta) tidak perlu lagi mempekerjakan orang hanya untuk mengurusi naskah pidato gubernur. Pemprov, lanjutnya, bisa saja berhemat dengan mempekerjakan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungannya.

"Kalau pakai PNS, kan, sudah digaji pemerintah. Buat apa diposkan anggaran lagi?" katanya. 

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta terpilih, Joko Widodo, yang ditemui beberapa waktu lalu, juga angkat bicara soal pemborosan anggaran melalui pos pembuatan naskah pidato gubernur itu. Jokowi sendiri mengaku tak suka berpidato.

"Saya pidato enggak pernah pakai naskah karena saya enggak pernah pidato. Enggak suka pidato sebenarnya. Tanya yang di Solo," kata Jokowi.

Ia mencontohkan, saat membuka pasar sebagai Wali Kota Solo, ia hanya berkomunikasi dengan pedagang sambil memotong pita peresmian.

"Potong pita, sambil bilang 'Bismillah' terus dibuka. Begitu saja," ujar Jokowi.

Jokowi berpandangan, anggaran naskah pidato gubernur itu tidak terlalu penting untuk dianggarkan. Dengan sikap seperti itu, Ucok menilai bahwa bisa saja Pemprov DKI Jakarta mengalihkan anggaran naskah untuk pos pembiayaan lain, seperti pembangunan atau pendidikan. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan Jokowi ketika menjabat kelak adalah menaklukkan hati para anggota DPRD DKI Jakarta.

"Jokowi harus bisa menaklukkan DPRD. Bagaimanapun juga, DPRD ini kan mau pemilu. Masa-masa ini tahap terakhir buat mereka mencari duit. Anggaran untuk pidato ini bisa saja dipangkas atau bisa dialihkan ke pos anggaran lain dengan persetujuan Sekretaris Dewan," ujar Ucok.

Berita terkait Pilkada DKI dapat diikuti dalam liputan khusus "Jakarta 1"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau