Semua Korban Longsor Tewas

Kompas.com - 06/10/2012, 02:12 WIB

Beijing, Jumat - Harapan menemukan korban selamat dari bencana tanah longsor di desa Zhenhe, Provinsi Yunan, China, akhirnya pupus. Sebanyak 18 siswa sekolah dasar yang sehari sebelumnya dinyatakan terkubur dinyatakan tewas oleh pemerintah setempat, Jumat (5/10).

Bangunan Sekolah Dasar Tiantou (laporan media pemerintah sebelumnya menyebut sekolah itu sebagai Youfang) dan tiga rumah petani terkubur, Kamis, ketika tanah longsor dari sebuah bukit melanda desa Zhenhe. Lokasi yang sama dilanda dua gempa bumi, bulan lalu, yang menyebabkan 81 orang tewas dan ratusan lainnya cedera.

Pemerintah mengonfirmasi seluruh siswa yang terkubur telah tewas. Harapan untuk menemukan siswa sekolah yang selamat lenyap, Jumat dini hari, ketika petugas penyelamat menemukan jenazah anak terakhir di balik reruntuhan.

Kantor berita pemerintah, Xinhua, bahkan menyebut petugas penyelamat menemukan jenazah korban ke-19 di balik tumpukan tanah. Belum ada penjelasan rinci mengenai korban terakhir itu. Namun, pemerintah lokal sebelumnya mengatakan satu orang hilang dari salah satu rumah petani yang tertimbun.

Membela diri

Tewasnya anak-anak itu menimbulkan pertanyaan mengapa mereka saat itu belajar di sekolah. Pada saat yang sama, siswa sekolah lain di seluruh China menjalani liburan nasional selama sepekan memperingati Festival Kue Bulan.

Pemerintah distrik Yiliang, yang membawahi desa Zhenhe, membela keputusan mereka mewajibkan anak-anak bersekolah di saat liburan. Anak-anak itu harus mengikuti pelajaran tambahan sebagai pengganti masa belajar yang hilang karena gangguan akibat gempa bulan September di daerah itu.

China memiliki sistem pendidikan yang sangat kompetitif dengan ujian ketat. Ujian itu yang menentukan apakah murid kemudian bisa masuk ke sekolah-sekolah yang baik.

Xinhua mengatakan, anak- anak itu dibawa ke Zhenhe dari sekolah di desa lain yang rusak parah akibat gempa. Selain korban tewas, gempa itu menyebabkan lebih dari 800 orang cedera dan 201.000 orang kehilangan tempat tinggal.

”Gunung-gunung di sekitar sekolah itu tertutup pepohonan rimbun. Tak ada tanda-tanda kemungkinan tanah longsor dalam investigasi setelah gempa bumi itu,” kata Xiao Shunxing, wakil kepala distrik.

Namun, media dalam negeri yang mengutip warga di lokasi mengatakan, mereka merasa prihatin melihat anak-anak yang harus berjalan jauh ke sekolah melewati jalan setapak pegunungan yang berlumpur, tak lama setelah gempa terjadi.

Keamanan sekolah adalah isu sensitif di China setelah ribuan siswa tewas ketika gempa berkekuatan 8,0 yang berpusat di Provinsi Sichuan mengguncang kawasan barat daya negara itu tahun 2008.

China barat daya yang berpegunungan rentan akan tanah longsor, ancaman yang diperparah oleh kegiatan gempa bumi yang kerap terjadi. (AFP/AP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau